Puisi dan Esai

PUISI - Jelajah Karya Mahdi Idris

Tubuhku terlempar ke musim purba. Di atasnya tumbuh pohon-pohon tanpa daun, bukit-bukit tanpa hutan, sungai-sungai berlumpur, dan samudera

PUISI - Jelajah Karya Mahdi Idris
Tribun Jogja
Ilustrasi oasis di tengah Gurun Sahara. PUISI - Jelajah Karya Mahdi Idris 

PUISI - Jelajah Karya Mahdi Idris

Puisi-puisi Mahdi Idris

Jelajah

Tubuhku terlempar ke musim purba.
Di atasnya tumbuh pohon-pohon tanpa daun, bukit-bukit
tanpa hutan, sungai-sungai berlumpur, dan samudera
tanpa gelombang. Tapi bukan gurun yang membentangkan
kabut debu. Tubuhku sebuah ruang jelajah tanpa arah pulang.
Seperti jalan setapak tanpa jejak petualang. Serba samar dan muram.

Orang-orang datang menjelajah, mencari peninggalan Qarun.
Bukan sekadar mencari, tapi melenyapkan segala yang tumbuh,
dari batang-batang kayu purba sampai benda tak kasat mata.
Mereka tak perlu tahu berapa harga sebuah keberadaan.

Aku adalah tubuh fakir, tersingkir dari bukit-bukit hijau
dan lautan tenang. Para penjelajah itu telah melumuri tubuhku
dengan nyala api. Kanak-kanak pergi membawa kehilangan,
meruntuhkan kenangan masa kecil di balai-balai bambu.

Tanah Luas, 2018

Korban

Semua yang telah tiada, masih memanggil anak-anak mereka
agar pergi jauh, meninggalkan beberapa dendam dan luka
yang sulit disembuhkan. Semua yang masih ada, melupakan
perjalanan rimba, lapar, dan hawa ketakutan yang sesekali
dibiarkan berkelana tanpa tujuan. Seperti pesakitan yang abai
terhadap ruang yang menampung segala penyakit
dan diagnosa seorang dokter yang berharap kesembuhan pasien
atau mati dengan tenang.

Semua yang masih ada, ingin buru-buru memiliki rumah baru
dalam sekejap. Tapi ia lupa, bahwa korban tak mudah
menemukan jalan pulang yang damai. Mesti ada tali-temali
yang menjerat dan hukum yang memberatkan.

Halaman
123
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved