Sejarah Ngerebong, Peringatan Kejayaan dan Keberhasilan Ekspansi Raja Kesiman ke Sasak

Ngerebong pada intinya merupakan sebuah peringatan suksesnya atau masa kejayaan raja-raja pada zamannya yang dikemas dengan sistem religi.

Sejarah Ngerebong, Peringatan Kejayaan dan Keberhasilan Ekspansi Raja Kesiman ke Sasak
Tribun Bali/Rizal Fanany
Pamedek yang kerahuan menghujamkan keris ke tubuhnya saat mengikuti Upacara Pengerebongan di Pura Dalem Petilan, Kesiman, Denpasar, Minggu (11/8/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ratusan orang berteriak, histeris, dan menangis. Para pamedek laki-laki dan perempuan itu kerauhan.

Gamelan terdengar bertalu-talu dan ketika ketukan gamelan semakin cepat, teriakan histeris semakin keras terdengar.

Para pengabih yang berjumlah dua orang atau lebih, menyangga tubuh pamedek yang kerauhan.

Itulah prosesi Ngerebong yang dilaksanakan di Pura Petilan Pengerebongan, Kesiman, Denpasar, Minggu (11/8/2019) sore. Prosesi ngerebong dimulai pukul 16.30 Wita.

Puluhan tapakan Ida Bhatara yang terdiri atas barong dan rangda ditedunkan dalam prosesi ini dengan mengitari wantilan di Madya Mandala sebanyak tiga kali dengan arah berlawanan jarum jam.

Pemedek dalam keadaan kesurupan (kerahuan) mengujamkan keris di dada (ngurek) dalam tradisi Ngerebong di Pura Dalam Petilan, Kesiman, Denpasar. Minggu (2/8/2015). Tradisi Ngerebong merupakan tradisi yang dilaksanakan 6 bulan sekali setelah hari raya Kuningan.(Tribun Bali/Rizal Fanany)
Dok. Tribun Bali - Tradisi Ngerebong di Pura Dalam Petilan, Kesiman, Denpasar. (Tribun Bali/Rizal Fanany) (Tribun Bali)

Mereka yang kerauhan juga ikut berkeliling. Di sebelah mereka, seorang pengayah membawa keris dan pengayah lain membawa sarung keris.

Ketika putaran sampai di depan pintu masuk utama Mandala, mereka yang kerauhan, utamanya yang lelaki berteriak meminta keris.

Setelah keris diserahkan, puluhan pamedek ngurek, menusuk leher, dada, dan dahi diri sendiri sekuat-kuatnya. Ada juga yang sambil melompat. Gambelan tetap bertalu di belakang mengiringi prosesi ini.

"Inggih usan asapunika manten (ya cukup segitu saja)," kata pemangku.

Usai ngurek, masih tampak bekas tusukan keris pada leher dan dahi mereka.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved