Program Elektronifikasi dan GNTT Kini Hadir di Jembrana, Transaksi Bisa Praktis dan Aman

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, kembali meresmikan elektronifikasi pembayaran retribusi (E-Retribusi) pasar di Jembrana.

Program Elektronifikasi dan GNTT Kini Hadir di Jembrana, Transaksi Bisa Praktis dan Aman
pixabay.com
Ilustrasi elektronifikasi pembayaran retribusi (E-Retribusi) sebagai upaya menggencarkan gerakan nasional non tunai (GNNT). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, kembali meresmikan elektronifikasi pembayaran retribusi (E-Retribusi) pasar di Jembrana setelah dilakukan hal serupa di Denpasar dan Badung.

Hal ini dilakukan, sebagai upaya menggencarkan gerakan nasional non tunai (GNNT).

“E-Retribusi merupakan metode pemrosesan pembayaran sebagai upaya mendorong peningkatan akses masyarakat pada layanan keuangan formal. Serta mendukung tugas Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran khususnya dalam mendorong penggunaan transaksi non tunai dalam menciptakan cashless society,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, dalam siaran pers yang diterima Tribun Bali, Senin (12/8/2019).

Jika sebelumnya pengelolaan retribusi pasar dilakukan secara tunai, maka dengan E-Retribusi ini, pemrosesan pembayaran secara non tunai menggunakan Quick Respon (QR) Code berbasis Basic Saving Account (BSA).

“Sehingga transaksi jadi praktis, mudah, cepat dan aman. Membantu mewujudkan keuangan inklusif,” imbuh Trisno.

Elektronifikasi transaksi penerimaan pemerintah daerah ini, selain memudahkan pedagang juga bermanfaat bagi pemda.

“Sebab selain aman dan cepat, data dan informasi yang dikumpulkan bisa dimanfaatkan secara optimal. Serta pengelolaan dan penerimaan lebih transparan dan memudahkan pengawasan,” jelasnya.

Implementasi QR Code pembayaran retribusi pasar di Jembrana ini, kata dia, dilakukan secara non tunai melalui sistem perbankan.

“Ini bukan hanya melibatkan Bank Indonesia sebagai regulator, tetapi juga harus ada dukungan dari kementerian, lembaga, pemda baik kabupaten/kota maupun provinsi. Serta stakeholder lainnya termasuk pelaku industri dan masyarakat,” tegasnya.

Untuk itu, ia mengapresiasi pemerintah Kabupaten Jembrana dan Bank BPD Bali, yang telah meluncurkan inovasi QR Code dalam metode pembayaran retribusi ini. 

Potensi
Trisno menjelaskan, Bali sangat potensial dalam mengembangkan transaksi non tunai atau elektronifikasi pembayaran.

“Bayangkan APBD tahun 2019 mencapai Rp 6,8 triliun. Dengan penduduk hampir 4 juta jiwa. Jumlah wisatawan mencapai 7,1 juta jiwa dengan rata-rata menginap 3,3 hari dan pengeluarannya Rp 12,5 juta per orang,” sebutnya.

Kemudian jaringan bank 797 unit, dengan jumlah ATM 3.276 unit, dan mesin EDC 11.797 unit.

Hal ini memperlihatkan besarnya peluang transaksi peredaran uang yang ada di Bali. Untuk itu, BI mengharapkan transaksi non tunai terus digalakkan.

Sehingga peredaran uang tunai ke depannya terus menurun digantikan dengan transaksi non tunai menggunakan kartu atau QR Code. (*)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved