Bisnis Kerajinan dari Satwa Dilindungi Sejak 2013, WN Belanda Diringkus Bareskrim Polri

WNA Belanda berinisial ER (56) diringkus Bareskrim Polri dengan tindakan kasus perdagangan satwa liar ilegal sejak tahun 2013

Bisnis Kerajinan dari Satwa Dilindungi Sejak 2013, WN Belanda Diringkus Bareskrim Polri
Tribun Bali/Rino Gale
Pelimpahan barang bukti secara simbolis dari Polri ke Kejaksaan Negeri Denpasar terkait penegakan hukum tindak pidana konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem antar negara Indonesia dan Belanda di Polda Bali, Rabu (14/8/2019), kepolisan Indonesia-Belanda melalui MLA (Mutual Legal Asistent) menghentikan kasus perdagangan ilegal satwa liar yang dilindungi. Bisnis Kerajinan dari Satwa Dilindungi Sejak 2013, WN Belanda Diringkus Bareskrim Polri 

Bisnis Kerajinan dari Satwa Dilindungi Sejak 2013, WN Belanda Diringkus Bareskrim Polri

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - WNA Belanda berinisial ER (56) diringkus Bareskrim Polri dengan tindakan kasus perdagangan satwa liar ilegal sejak tahun 2013.

Barang bukti yang berhasil diamankan dari tersangka yaitu satu tengkorak kepala babi rusa, 110 gelang akar bahar, 11 moncong hiu gergaji, dua tengkorak buaya dan empat tengkorak kepala penyu.

Dalam pelimpahan secara simbolis barang bukti dari Polri ke Kejaksaan Negeri Denpasar di Polda Bali, Direktorat Tipidter Bareskrim Polri, Kombes Pol Drs Adi Karya Tobing menjelaskan, tanggal 5 Juli 2016 di Rotterdam Belanda, petugas bea cukai Rotterdam menemukan beberapa container.

Setelah diperiksa isinya adalah barang-barang suvenir dan benda-benda atau potongan tubuh satwa yang berasal dari Indonesia, yang juga diselundupkan.

"Setelah diperiksa, isinya barang-barang suvenir yang ternyata setelah diperiksa lagi, ada barang bukti tersebut. Kemudian kepolisian Belanda menginformasikan kepada kepolisian Indonesia. Mengetahui itu, kami melakukan proses penyelidikan," ujarnya, Rabu (14/8/2019).

Barang bukti tersebut didapat dari tersangka berinisial ER yang saat itu melakukan pengiriman bagian tubuh satwa liar yang dilindungi dari Bali ke Belanda dengan modus ekspor barang kerajinan tangan atau suvenir. Pengiriman itu dilakukan melalui jasa ekspedisi atau kargo laut.

"Kemudian, pihak kepolisian Belanda informasi kepada kita. Setelah informasi ini kita dapat, kita juga berkoordinasi dengan jaksa penuntut umum, dan kemudian melakukan proses penyelidikan. Barang-barang itu ada di Belanda semua, kemudian oleh penyidik diminta barang itu ke Indonesia," ujarnya.

"Jadi kita lakukan penyitaan terhadap tersangka yang mengirim barang-barang ini ke Belanda. Tersangka ini di Bali, kita dapat upaya proses penyelidikan sampai memeriksa saksi dengan juga melihat barang bukti yang ada di Belanda. Setelah itu, kita melengkapi berkas perkara dan oleh jaksa berkas perkara sudah lengkap kemarin, dan kita melimpahkan keduanya, tersangka dan barang bukti. Jadi kasus ini adalah sejarah kejahatan organisasi crime, apabila pemerintah serius menangani pasti bisa menegakkan hukum pada warga Belanda, dan Pemerintah Belanda juga mendukung," tambahnya.

Dari hasil interogasi, tersangka membeli barang bukti tersebut di beberapa art shop yang ada di Bali.

"Dia memang sudah lama tinggal di Indonesia dan berbisnis sejak tahun 2013. Dia juga punya istri orang Indonesia dan punya keturunan di sini. Dia menyewa tempat dan kemudian berbisnis seperti ini. Kasus seperti Ini di Indonesia dan Belanda merupakan suatu kejahatan. Sehingga Pemerintah Belanda dan Indonesia bekerjasama memutus mata rantai jaringan sindikat internasional ini. Dari keterangan tersangka, dia dapat barang bukti itu di beberapa art shop di Bali. Ada tiga art shop," ujarnya

Rabu (13/8/2019) kemarin, tersangka berserta barang bukti telah dlimpahkan ke Kejaksaan Negeri Denpasar dengan pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2 Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Kalau total kerugian sih tidak terhingga. Barang ini kalau di luar negeri dikasi hiasan sedikit harganya bisa mencapai Rp 50-80 juta. Dia beli di Indonesia paling Rp 1 juta. Betapa besar kerugian negara. Ini disita untuk negara, barangnya sebagian dikembalikan menjadi barang bukti proses peradilan di Indonesia, sebagian lagi ada di Belanda. Yang diperiksa ada 5 container. Potongan tubuh hewan banyak sekali ini kita kembalikan hanya sebagian saja," ujarnya.

(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved