Kisah Pedih Putu Rika, Suami Tak Berdaya, Kini Dirinya Hidupi Empat Anak, Suami dan Mertua

Kisah Pedih Putu Rika, Suami Tak Berdaya, Kini Dirinya Hidupi Empat Anak, Suami dan Mertua

Tribun Bali/Putu Supartika
Kisah Pedih Putu Rika, Suami Tak Berdaya, Kini Dirinya Hidupi Empat Anak, Suami dan Mertua 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Gede Redana (35) sudah tiga kali menjalani operasi tumor pada perutnya.

Akan tetapi tumornya tetap tumbuh.

Ia tak bisa bekerja, hanya diam atau terbaring di kamar kosnya.

AKBP Ni Ketut Widayana Ungkap Honorer Cantik Samsat Gelapkan BPKB Rp 2,1 M Demi Gaya Sosialita

Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, kini harus dipenuhi oleh sang istri, Putu Rika Trismayani (26) dengan membuat ceper (sarana upakara).

Ia juga harus menghidupi empat orang anak dan seorang ibu mertua.

Sementara untuk pengobatan Redana mengandalkan BPJS.

Pengantin Wanita Dirudapaksa Tetangga Suaminya pada Malam Pertama, Disangka Pengantin Pria

Walaupun demikian saat operasi pembentukan lubang kolostomi ia harus meminjam uang pada renternir.

Menurut pengakuannya kini untuk pengobatan dirinya saja ia memiliki hutang Rp 22 Juta.

Sementara itu dari berjualan ceper, saat upacara mampu mendapat uang Rp 50 ribu.

Reggi Tebas Kepala Sahabatnya di Tempat Nongkrong, Berawal Saat Disuruh Bayar Kopi

Akan tetapi jika hari biasa ia hanya mendapat Rp 20 - 30 ribu.

Bahkan tak jarang istrinya menghutang janur kepada penjual janur dari Karangasem.

"Untuk beli beras saja itu. Lauknya ya seadanya. Kadang tempe, sayur kangkung saja," kata Redana saat ditemui di kosnya, Rabu (14/8/2019) di Jalan Sedap Malam, Gang Bugbugan nomor 9, Kesiman, Denpasar.

Belakangan selain kontrol ke rumah sakit, ia juga berobat ke balian atau dukun.

"Oleh dokter dibilang tumor namun di balian dibilang pecadinin timpal (dikenai orang)," katanya.

Ia pun menjadi bingung dengan penyakit yang dideritanya.

Ia juga pernah berobat ke Ida Rsi dan disarankan melukat.

Oleh Ida Rsi dikatakan ia kena cetik.

Dalam pengobatan tersebut ia juga diminta membayar Rp 900 ribu.

Terpaksa sang istri mencari renternir lagi.

Dan setiap hari renternir itu datang menagih uang tagihan ke rumahnya.

"Kalau ada dikasi 20 ribu. Tapi sering juga minta tempo waktu," katanya.

Bahkan uang kos ia nunggak tiga bulan.

Untunglah tuan rumahnya mengerti keadaan dirinya.

"Kadang malu dicari terus, kadang stres. Kalau di kampung tidak ada kerjaan lain. Tanah agak kering, apa dipakai makan nanti," katanya.

Dulu sewaktu ayahnya masih hidup, ia bisa meminta pertimbangan pada sang ayah.

Namun kini ayahnya telah tiada dan ia memasrahkan semuanya pada sang istri.

"Kalau istri saya tidak bisa dapat uang, saya nggak bsia ngomong apa. Biarpun yang punya uang memarahi saya, saya tak bisa apa-apa," katanya.

Bahkan anak pertamanya yang seharusnya kelas VII SMP tahun ini tak bisa melanjutkan.

Itu dikarenakan tak ada biaya untuk menyekolahkan sang anak.

"Saya cuma bisa berharap kalau ada yang bisa bantu ya dibantu," katanya.

Ia juga harus minum pil 4-5 jam sekali.

Jika tidak maka ia akan merasa nyeri pada perutnya bahkan sakit seperti diiris-iris.

"Saya akan menangis menahan sakit seperti anak kecil," katanya.

Sementara ceper yang dibuat sang istri diambil oleh langganan.

Karena sudah tak memungkinkan untuk keliling membawa ceper.

Apalagi anaknya yang paling kecil berusia 6 bulan.

"Sambil ngempu dan nungguin saya sakit istri saya buat ceper. Cukup buat beli beras," imbuh lelaki yang sejak tahun 2002 merantau ke Denpasar ini.

Jika ada yang terketuk untuk membantunya silahkan hubungi nomor 087861863553. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved