Serba Serbi

Kisah Pencurian Padi Milik Dewi Sri Oleh I Paksi Raja, Asal Mula Adanya Lelakut

Hama merupakan musuh petani di sawah maupun ladang.Dan kadang hama ini bisa membuat petani merugi.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
LOMBA LELAKUT - Peserta melakukan persembahyangan sebelum kegiatan lomba lelakut, pindekan dan sunari di Subak Buaji, Kesiman,Denpasar, Sabtu (3/11/2018). Lomba ini diikuti seluruh subak se-kota Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Hama merupakan musuh petani di sawah maupun ladang.

Dan kadang hama ini bisa membuat petani merugi.

Salah satu yang dianggap sebagai pengganggu utamanya saat menanam padi adalah burung.

Terkait dengan burung yang biasanya mencuri padi petani menurut Dosen Bahasa Bali Unud, I Putu Eka Guna Yasa termuat dalam Lontar Usada Sawah.

Dalam Lontar Usada Sawah disebutkan ada paksi raja atau burung raksasa yang dianggap sebagai dewanya para burung.

Burung ini memiliki paruh emas, mata merah, dan bulunya kehitam-hitaman serta memiliki cakar yang tajam.

“Burung ini dipuja oleh semua jenis burung dan burung ini kerap mencuri padi milik Ida Batari Sri, bahkan sampai habis,” kata Guna, Kamis (15/8/2019) siang.

Dengan kejadian itu, Dewi Sri sangat sedih dan memohon agar ibunya yakni Ida Bhatari Uma turun ke dunia membantu menyelesaikan masalah ini.

“Bhaṭari Uma kemudian bertanya kepada Bhaṭari Śri tentang apa yang membuatnya bersedih. Batari Sri mengatakan kesedihannya dikarenakan ulah I Paksi Raja yang bersama anak buahnya yang mencuri padi miliknya,” kata Guna.

Ida Déwi Uma pun akhirnya mengutus Ida Sang Hyang Pamunah dan Sang Hyang Sepuh agar turun ke dunia dan menjaga Ida Batari Sri.

Sang Hyang Sepuh bersama Ida Sang Hyang Sakti ini bisa mengenakan denda dan mengusir I Raja Paksi bersama anak buahnya jika mencuri padi Dewi Sri.

Sarana yang digunakannya untuk mengusir yakni patakut atau lelakut.

Lelakut itu ditancapkan pada hari Kliwon dan membuat I Raja Paksi ini takut.

Saat menancapkan lelakut ini ada labaan berupa canang dua buah, berisi nyanyah gagringsingan, dan dihaturkan selama 15 hari.

Jika sudah panen, ada labaan untuk Sang Hyang Sepuh dan Ida Sang Hyang Pamunah Sakti. 

“Sang Hyang Sepuh diberikan labaan ajengan putih apunjung, mabé taluh dadar, sasawur kacang komak dhaksina, 1, bayuhan atanding. Dan Sang Hyang Pamunah Sakti dengan labaan nasi kuning mabé kuning taluh, canang ngapasang, maraka geti-geti biu mas,” katanya. (*)

 
 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved