Essai

Menjadi Indonesia

Membaca Indonesia, ibarat menelisik labirin-labirin yang penuh misteri. Kisahannya tak pernah selesai, walau kita telah sampai di penghujung halaman.

Menjadi Indonesia
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan mengadakan pembagian remisi kepada para tahanan, Sabtu (17/8/2019). 

Oleh : Ni Ketut Sudiani

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -- Membaca Indonesia, ibarat menelisik labirin-labirin yang penuh misteri.

Kisahannya tak pernah selesai, walau kita telah sampai di penghujung halaman.

Agaknya tak pernah cukup waktu untuk memahami menyeluruh keutuhan Indonesia. Jika hanya baru ‘sampai’ pada Jawa atau Bali, perjalanan kita masih jauh tuan dan puan.

Selasa pagi, beberapa hari menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, memasuki Selat, Duda, Karangasem, di dekat sebuah sekolah dasar, saya temui tonggak bersejarah dengan bendera Merah Putih tegak berdiri.

Orang-orang setempat mengenal tempat itu sebagai kediaman rumah Lanang Rai.

Di sanalah pada tahun 1946, tentara Belanda pernah menembak puluhan, mungkin bahkan ratusan-tak ada catatan pasti akan jumlah ini-para pemuda pejuang yang memberontak.

Sebuah kulkul tua setengah terbakar menjadi saksi bisu peristiwa itu.

Sehari sebelumnya, lama saya bercakap dengan I Gusti Ngurah Gede Yudana, putra sulung pejuang I Gusti Ngurah Rai.

Hampir 15 tahun lamanya ia memilih mengabdikan diri di Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) yang menaungi anak-anak veteran.

Halaman
1234
Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved