Hingga Juli 2019, Terdapat 64 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Denpasar

Hingga bulan Juli 2019, terjadi sebanyak 64 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Denpasar.

Hingga Juli 2019, Terdapat 64 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Denpasar
Humas Pemkot Denpasar
Sosialisasi sistem pencatatan dan pelaporan data kekerasan terhadap perempuan dan anak, Rabu (21/8/2019) di Gedung Wanita Santhi Graha Denpasar. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hingga bulan Juli 2019, terdapat sebanyak 64 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Denpasar.

Hal tersebut berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Denpasar.

Kepala Dinas P3AP2KB Kota Denpasar, I Gusti Laksmi Dharmayanti menyampaikan semua kekerasan terutama Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan.

Selain itu, KDRT merupakan bentuk diskriminasi yang harus dihapus sebagaimana diatur dalam Undang-undang  Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).

Masih adanya kasus kekerasan di dalam rumah tangga ini menunjukkan perlu adanya pemberian sosialisasi dan advokasi kepada masyarakat dengan tujuan untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan  dan anak.

Sehingga diadakanlah sosialisasi yang menyasar forum anak, PKK dan perwakilan karang taruna se-Kota Denpasar yang berlangsung Rabu (21/8/2019) di Gedung Wanita Santhi Graha Denpasar.

Pihaknya mengatakan, di Kota Denpasar sudah terbentuk forum-forum penceghan KDRT di setiap kecamatan.

"Oleh sebab itu kami melakukan sosialisasi sistem pencatatan dan pelaporan data kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tujuan untuk melatih tenaga pencatatan dan pelaporan data kekerasan di unit-unit yang berada di Kota Denpasar untuk sinkronisasi sistem pencatatan dan pelaporan di lingkup Kota Denpasar," katanya.

Kabid PHP dan PKA pada DP3AP2KB, Made Atmajaya mengatakan melalui sosialisasi ini dapat memberikan pemahaman pentingnya pecegahan kekerasan di rumah tangga.

Disamping juga memberikan pemahaman tentang KDRT.

"Kami harapkan melalui sosialisasi ini dapat mencegah KDRT dan dapat memberikan data yang akurat tentang terjadinya KDRT," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved