Membincangkan Kisah Sejarah dan Cerita Nyata dalam Karya Sastra Indonesia

Program Dialog Sastra seri ke-66 di Bentara Budaya Bali membincangkan seputar kisah sejarah dan cerita nyata dalam karya sastra Indonesia

Membincangkan Kisah Sejarah dan Cerita Nyata dalam Karya Sastra Indonesia
Bentara Budaya Bali
Program Dialog Sastra seri ke-66 di Bentara Budaya Bali (BBB) yang berlangsung Senin (19/8/2019), membincangkan seputar kisah sejarah dan cerita nyata dalam karya sastra Indonesia. Membincangkan Kisah Sejarah dan Cerita Nyata dalam Karya Sastra Indonesia 

Membincangkan Kisah Sejarah dan Cerita Nyata dalam Karya Sastra Indonesia

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Program Dialog Sastra seri ke-66 di Bentara Budaya Bali (BBB) yang berlangsung Senin (19/8/2019), membincangkan seputar kisah sejarah dan cerita nyata dalam karya sastra Indonesia.

Selain berpijak pada karya sastrawan Indonesia, semisal tetralogi Buru oleh Pramoedya Ananta Toer, dialog dirujukkan pula pada karya-karya sastra terpilih dari penulis besar dunia, semisal Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Joseph Conrad hingga sejumlah pengarang Jepang.

Tampil sebagai narasumber yakni sejarawan alumni UGM, Nyoman Wijaya, dan sastrawan Noorca Massardi.

Nyoman Wijaya telah menulis banyak buku biografi.

Sementara Noorca telah menulis sejumlah novel yang boleh dikata berangkat dari latar sejarah maupun kisah nyata, sebut saja karyanya berjudul September (2006), d.I.a. : Cinta dan Presiden (2008), Setelah 17 Tahun  (2016), 180 (2016) dan lain-lain.

Dalam makalahnya, Nyoman Wijaya mengemukakan perihal sejarah dalam cerita pendek, merujuk pada cerpen karya P Shanty berjudul “Kekalahan Jang Ke-empat” (1950).

Cerpen ini, menurut Nyoman Wijaya menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana cerpenis menggunakan ideologi politik sosialisme untuk berebut pengaruh di Kota Singaraja pada khususnya dan Bali pada umumnya di tahun 1950.

Studi oleh Nyoman Wijaya ini mencoba menawarkan sebuah pendekatan baru dalam mengajarkan sejarah melalui karya sastra, khususnya cerita pendek.

Dialog mengetengahkan pula pembacaan seputar bagaimana sebuah karya sastra sejatinya juga menyuguhkan upaya eksplorasi pada Geistzeit atau jiwa zaman.

Halaman
12
Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved