Kronologi Musibah Terbakarnya KM Santika Nusantara, Penumpang Diminta Terjun ke Air
Musibah terbakarnya Kapal Motor (KM) Santika Nusantara membawa kisah tersendiri bagi Karjono, seorang penumpang.
TRIBUN-BALI.COM, SURABAYA - Musibah terbakarnya Kapal Motor (KM) Santika Nusantara membawa kisah tersendiri bagi Karjono, seorang penumpang.
Pria yang berusia 50 tahun itu selamat setelah terombang-ambing selama 11 jam di tengah laut, sebelum ditolong kapal peti kemas.
"Saya bersama 10 orang penumpang lainnya berada dalam air. Saya tidak tahu mereka sekarang di mana, semoga selamat semua," ucapnya sambil menangis ketika ditemui di Surabaya, Sabtu (24/8).
KM Santika Nusantara dilaporkan terbakar di Perairan Masalembo pada Kamis (22/8), pukul 20.45 WIB, saat berlayar dari Surabaya menuju Balikpapan, Kalimantan Timur.
Perairan Masalembo terletak di Kecamatan Kepulauan Masalembo, Kabupaten Sumenep (Jawa Timur). Jika ditarik garis lurus, wilayah perairan Masalembo berada di utara Pulau Bali.
Dalam manifes (daftar penumpang) KM Santika Nusantara tercatat jumlah penumpang 111, terdiri 100 orang dewasa, enam anak-anak, dan lima balita.
Tidak seperti korban selamat lainnya, Karjono tidak didatangi keluarganya yang berada di Pekanbaru, Provinsi Riau. Selain itu telepon genggamnya juga hilang entah ke mana.
Karjono berniat merantau ke Kalimantan, tepatnya Kota Balikpapan. Dia berangkat bersama tiga temannya untuk mencari pekerjaan.
Karjono menumpang KM Santika Nusantara yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Saat kapal terbakar di perairan sekitar Pulau Masalembo, Kabupaten Sumenep, pada Kamis (23/8) malam, Karjono sedang beristirahat.
Dia bersama teman‑temannya mendengar dengan jelas arahan kapten kapal yang mengatakan tentang terjadinya kebakaran.
Kapten menginstruksikan agar para penumnpang mengambil pelampung. "Karena api sudah besar, ABK (anak buah kapal) meminta penumpang terjun ke laut," kata Karjono.
Karjono terpisah dari teman‑temannya. Seingatnya, ia selama 11 jam terombang‑ambing di perairan Masalembo.
Karjono kemudian ditolong kapal peti kemas, sedangkan penumpang lain yang menaiki kapal karet diselamatkan para nelayan.
Ia berharap teman‑temannya ditemukan dalam kondisi selamat. Penumpang KM Santika Nusantara yang berhasil dievakuasi tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sekira pukul 19.30, Kamis (22/8).
Kedatangan 55 penumpang kapal itu disambut isak tangis keluarga mereka. Para korban dibawa ke Surabaya dengan menumpang KM Dharma Fery 7.
Mendengar penumpang yang selamat datang, keluarga korban yang sudah menunggu sejak pagi itu langsung bergegas melihat di balik kaca pintu kedatangan.
Suasana haru menyelimuti seisi ruang tunggu pelabuhan. Mereka terlihat berpelukan sambil menangis kemudian saling menenangkan.
Menginap di Hotel
Suasana tak kalah haru menyelimuti keluarga korban yang sudah menunggu tetapi nama dari keluarganya itu tidak tercantum dalam daftar 55 penumpang. Seperti yang dialami Muspa, warga Surabaya.
Dia hanya bisa melihat keluarga korban lainnya bertemu anggota keluarganya.
"Kakak dan keponakan saya masih belum terlihat. Handphone-nya saat dihubungi sudah tidak aktif," ujarnya.
Jari telunjuknya berulang kali meneliti data manifes (daftar penumpang) namun nama kakaknya, Hadi Maspandi (45), dan keponakannya Alvian Hadi (18), benar‑benar tidak ada.
Ia berharap mereka saat ini sedang dalam perjalanan di kapal kedua, yang melakukan pertolongan.
"Mudah‑mudahan ikut kapal selanjutnya," harapnya. Kakak dan keponakannya pergi ke Kalimantan untuk mengantar barang. Mereka bekerja sebagai sopir dan kernet dump truck di sana.
Sebanyak 120 penumpang KM Santika Nusantara yang tiba dari Kalianget (Madura), Sabtu (24/8), langsung diinapkan di sebuah hotel di Jalan Niaga Tambang, Surabaya.
Mereka diberi baju dan sandal karena semua barang bawaan hilang.
Seorang keluarga korban, Arum Sakinah, yang datang dari Yogyakarta, tampak berlinang airmata ketika melihat ayah dan ibunya. "Jumat sore dapat telepon, ayah dan ibu selamat, dibantu nelayan," ujarnya.
Sang ayah Idrus, dan ibunya, Titik Rustiani, masih mengenakan pakaian yang dipakai ketika berangkat naik KM Santika Nusantara. Beruntung telepon genggam ayahnya masih bisa digunakan.
"Barang‑barang sama mobil di kapal ludes terbakar," ujar Arum. Diceritakan, ayah dan ibu itu menjenguk Arum di Yogya kemudian pulang ke Balikpapan menggunakan kapal.
Saat kejadian, keduanya sedang tertidur lalu mendengar kabar kapal terbakar. Ayahnya langsung membawa handphone yang sedang di-charge di dalam kamar, kemudian naik sekoci.
Pada Sabtu dini hari, ayah dan ibu Arum Sakinah ditolong oleh kapal nelayan. "Di sekoci kami meniup peluit, kan gelap di tengah laut," tambahnya.
Jumlah Korban Simpang Siur
BASARNAS Surabaya menyebut 303 orang korban kapal KM Santika Nusantara telah dievakuasi oleh tim SAR gabungan, Sabtu (24/8). Humas Basarnas Surabaya, Tholeb Vatelehan mengatakan berdasarkan data terbaru pada Sabtu (24/8), para korban telah dievakuasi ke berbagai tempat.
Sedangkan Polres Sumenep menyebut jumlah korban selamat sebanyak 294 orang. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan daftar manifest (daftar penumpang) yang hanya 111 orang.
Belum diketahui mengapa terjadi perbedaan jumlah penumpang.
Menurut Tholeb, sebanyak 64 orang dievakuasi dan diangkut oleh KM Dharma Ferry 7; sedangkan 23 orang lain oleh KM Spil Citra ke Pelabuhan Tanjung Perak pada Jumat (23/8) malam.
Para penumpang yang dievakuasi ke Pulau Masalembo sebanyak 52 orang selamat dan tiga orang meninggal dunia.
"Sedangkan yang dievakuasi ke Pelabuhan Kalianget, Sumenep sebanyak 161 orang," ujar Tholeb.
Ia menjelaskan dari 161 orang yang berada di Pelabuhan Kalianget, beberapa di antaranya telah pulang dijemput oleh pihak keluarga.
"Sebanyak 23 orang sudah dibawa oleh pihak keluarga dan 13 orang dirawat di rumah sakit. Sisanya dibawa menuju ke Surabaya menggunakan dua bus," katanya.
Tholeb menambahkan korban, selamat yang berada di Pulau Masalembo juga akan segera dievakuasi ke Surabaya. "Korban yang ada di Pulau Masalembo diangkut memakai Kapal Negara (KN) Cundamani," ujarnya.
Kebakaran KM Santika Nusantara terjadi pada Kamis (22/8) sekira pukul 20.45. Upaya evakuasi terhadang faktor cuaca berupa angin kencang mencapai 25 knot dan gelombang tinggi.
Kasubbag Humas Polres Sumenep AKP Widiarti mengungkapkan, korban selamat dalam musibah kebakaran KM Santika Nusantara sebanyak 294 orang. "Jumlah ini berdasarkan data korban yang berhasil dievakuasi oleh petugas gabungan di lapangan," kata Widiarti di Sumenep kemarin.
Ia menuturkan sebenarnya penumpang KM Santika Nusantara sesuai yang tercatat dalam manifest hanya 111 orang. "Masih dicari tahu mengapa bisa menjadi 294 orang. Jumlah itu juga termasuk ABK‑nya," ujar Widi.
Widiarti lebih lanjut menjelaskan, korban selamat berhasil dievakuasi oleh petugas melalui tiga pelabuhan yaitu Pelabuhan Masalembo, Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), dan Pelabuhan Kalianget (Sumenep).
Jumlah korban yang dievakuasi ke Pelabuhan Masalembo sebanyak 53 orang, 87 orang dievakuasi ke Pelabuhan Tanjung Perak, dan 154 orang lainnya ke Pelabuhan Kalianget. "Yang ke Pelabuhan Kalianget, Sumenep ini terdiri dari 144 orang dewasa, 7 orang anak‑anak dan 3 orang lainnya balita," katanya.(surya/tribun/tim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/km-santika-nusantara.jpg)