170 Hektare Lahan Pertanian di Buleleng Alami Kekeringan

Seluas 170.45 hektare lahan yang tersebar di enam kecamatan di Buleleng mengalami kekeringan.

170 Hektare Lahan Pertanian di Buleleng Alami Kekeringan
Tribun Bali
Ilustrasi kekeringan 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Seluas 170.45 hektare lahan yang tersebar di enam kecamatan di Buleleng mengalami kekeringan.

Musim kemarau ini diprediksi akan terjadi hingga Oktober mendatang.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Made Sumiarta mengatakan, berdasarkan data per 13 Agustus kekeringan tersebar di kecamatan Sawan sebanyak 16 subak, Kecamatan Buleleng 11 subak Kecamatan Sukasada 1 subak, Kecamatan Seririt 5 subak, Kecamatan Busungbiu 1 subak, dan Kecamatan Banjar 2 Subak.

Tingkat kekeringan terbagi menjadi empat kategori. Yakni kategori ringan seluas 93.45 hektare, sedang 26 hektare, berat 6.4 hektare, dan puso mencapai 44.60 hektare.

Khusus kategori puso, paling banyak terjadi di Kecamatan Buleleng, dengan luas mencapai 35 hektare.

"Puso ini artinya sudah tidak bisa berproduksi lagi," ucapnya, Minggu (25/8/2019).

Setiap hektare, mampu memproduksi gabah kering sekitar enam hingga delapan ton.

Maka bila dikalkulasikan, kerugian yang dialami akibat kekeringan ini mencapai Rp 5-6juta per hektarnya.

Kendati demikian, para petani diakui Sumiarta, masih enggan untuk mengikuti Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Padahal program AUTP ini sejatinya bertujuan untuk memberikan perlindungan, mana kala bencana alam atau hama penyakit menerjang lahan persawahan para petani.

Dengan adanya asuransi, para petani akan diberikan biaya ganti rugi oleh pemerintah sebesar Rp 6 juta per hektarenya, apabila tanamannya mengalami kerusakan hingga mencapai 75 persen.

Untuk mengukuti asuransi ini,  pemerintah bahkan telah memberikan subsidi.

Premi yang sejatinya dibayar sebesar Rp 144 ribu per hektare per musim tanam, kini cukup dibayar oleh para petani sebesar Rp 36 ribu per hektare per musim tanam.

Untuk meminimalisir kerugian, Dinas Pertanian telah mengimbau kepada para petani agar tidak hanya fokus untuk menanam padi, melainkan juga dapat beralih komoditas seperti kacang ijo.

"Kebanyakan petani, kalau ada air sedikit sudah coba-coba tanam padi. Padahal sudah diimbau oleh petugas kami dilapangan untuk tidak menanam padi untuk meminimalisir kerugian di bulan-bulan kemarau ini. Tidak bisa dipaksakan juga, karena keuntungan dari menanam padi ini lumayan juga.  Kendati demikian, saat ini tidak ada pengaruh terhadap pasokan beras," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved