Dua Pelaku Pengganda Uang Dituntut, Abu Hari Dituntut Lebih Tinggi

Abu Hari (52) hanya bisa diam menunduk saat menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar

Dua Pelaku Pengganda Uang Dituntut, Abu Hari Dituntut Lebih Tinggi
tribunnews
Ilustrasi uang palsu. Seorang nasabah BRI Unit Seririt diduga menerima beberapa lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu. Kasus ini pun telah dilaporkan ke Mapolsek Seririt, dan masih dalam tahap penyelidikan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Abu Hari (52) hanya bisa diam menunduk saat menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (26/8).

Ia tidak sendiri, adalah Agus Jauhari (41) juga menjalani sidang tuntutan dalam berkas terpisah.

Dalam surat tuntutan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Abu Hari dituntut lebih tinggi, yakni penjara selama tiga tahun. Sedangkan Agus Jauhari dituntut setahun dan enam bulan (1,5 tahun) penjara.

Kedua komplotan tersebut dinilai bersalah melakukan penipuan berkedok penggandaan uang.

Tingginnya tuntutan jaksa terhadap Abu Hari karena dia adalah otak dari kasus penipuan ini, dengan memperdaya korban Ni Ketut Sudiasih hingga mengalami kerugian mencapai Rp 400 juta, Sedangkan Agus Jauhari berperan sebagai sopir Abu Hari. Terhadap tuntutan jaksa, para terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya mengajukan pembelaan atau pledoi tertulis yang akan dibacakan pada sidang berikutnya.

Sementara itu dari masing-masing surat tuntutan, Jaksa Ni Made Suasti Arini menyatakan, terdakwa Abu Hari bersama I Gusti Ngurah, Supandi, Syaharuddin (ketiganya masuk DPO), dan Agus Jauhari (terdakwa berkas terpisah), bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama melakukan penipuan sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 378 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

"Menuntut, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Abu Hari dengan pidana penjara selama tiga tahun, dikurangi selama berada dalam tahanan sementara dengan perintah terdakwa tetap ditahan," tegasnya dihadapan majelis hakim pimpinan Heriyanti. Di berkas terpisah, Agus Jauhari dituntut setahun dan enam bulan (1,5 tahun) penjara.

Menurut Jaksa Suasti Arini, hal yang memberatkan baik bagi terdakwa Abu Hari maupun Agus Jauhari, karena perbuatan keduanya telah mengikibatkan saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp 400 juta. Pula para terdakwa telah menikmati uang hasil dari penipuannya. Sedangkan hal yang meringankan, para terdakwa bersikap sopan selama persidangan dan belum pernah dihukum.

Sebagaimana dalam surat dakwaan jaksa diungkap, berawal ketika terdakwa Abu Hari bersama Agus Jauhari datang ke Hotel Osella 2 Ubung untuk bertemu I Gusti Ngurah, Supandi dan Syaharuddine pada 24 Pebruari 2019. "Setibanya di Hote Osella 2 Ubung, keduanya pun bertemu dengan I Gusti Ngurah, Supandi dan Syaharuddin. Dalam pertemuan itu, I Gusti Ngurah menyampaikan kepada terdakwa bahwa ada orang yang membutuhkan keuangan yakni saksi Ni Ketut Sudiasih dan orang tersebut bisa "dimakan" (ditipu)," beber Jaksa Suasti Arini kala itu.

Lebih lanjut, I Gusti Ngurah kemudian membagi tugas mulai dari Supandi sebagai pendana atau orang yang menyiapkan dana, Syaharuddin sebagai penerima dana transfer dari korban, Agus Jauhari sebagai sopir Abu Hari. Sedang I Gusti Ngurah mengendalikan korban untuk ditipu dan Abu Hari berpura-pura sebagai Pak Haji yang bisa menggandakan uang.

Dua hari kemudian, sekitar pukul 09.00 Wita, korban Sudiasih mendatangi Hotel Osella Ubung untuk bertemu dengan saksi I Wayan Sarma dan dikenalkan dengan I Gusti Ngurah. Saat itu, I Gusti Ngurah mulai mempengaruhi korban dengan bercerita tentang pengalaman hidupnya yang pernah dililit banyak utang hingga akhirnya dibantu oleh Abu Hari keluar dari masalah tersebut. Untuk menyakinkan lagi, Ngurah juga bercerita bahwa dirinya menjadi pengusaha jual beli kayu berkat bantuan Abu Hari.

Halaman
12
Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved