Kisah Pilu Wayan Sudiasa Cari Bekal Sekolah dengan Jualan Porosan, Kehilangan Ibu & Ayah Sejak Bayi

Wayan Sudiasa (10) tak bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibu layaknya anak seusianya.Bocah yang kini duduk di bangku kelas V SD 4 Jehem

Kisah Pilu Wayan Sudiasa Cari Bekal Sekolah dengan Jualan Porosan, Kehilangan Ibu & Ayah Sejak Bayi
Tribun Bali/M. Fredey Mercury
YATIM PIATU - Wayan Sudiasa bersama kakek dan neneknya, Minggu (25/8/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI -- Wayan Sudiasa (10) tak bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibu layaknya anak seusianya.

Bocah yang kini duduk di bangku kelas V SD 4 Jehem ini, menjadi yatim piatu sejak ia masih berusia tiga bulan.

Di kediamannya yang terletak di Dusun Penida Kelod, Desa Tembuku, Wayan Sudiasa tampak sibuk membuat canang.

Jari kecilnya tampak terampil majejahitan.

Sejak menjadi yatim piatu, bocah kelahiran 30 Maret 10 tahun lalu itu kini diasuh kakek dan neneknya, I Wayan Suwitra dan Ni Nengah Sami.

Sudiasa juga diasuh buyutnya, Ni Wayan Opet.

Sudiasa menuturkan, membuat porosan merupakan rutinitas untuk mengisi waktu luangnya.

Seluruh porosan itu nantinya dijual yang hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau dijual dapatnya Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu,” ujarnya, Minggu (25/8).

Hasil penjualan porosan juga digunakan untuk bekal sekolah. Nominal yang ia dapatkan tidak menentu. 

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved