Dari 4.500 Universitas Hanya Ada 85 Inovasi, Kalla: Inovasi Bermakna Bila Sudah Dikomersialkan

Wakil Presiden (Wapres) RI, Muhammad Jusuf Kalla menghadiri puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 tahun 2019

Dari 4.500 Universitas Hanya Ada 85 Inovasi, Kalla: Inovasi Bermakna Bila Sudah Dikomersialkan
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Puncak Hakteknas - Wakil Presiden (Wapres) RI, Muhammad Jusuf Kalla saat menghadiri puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 tahun 2019 di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Bali, Rabu (28/8/2019).┬áDari 4.500 Universitas Hanya Ada 85 Inovasi, Kalla: Inovasi Bermakna Bila Sudah Dikomersialkan 

Dari 4.500 Universitas Hanya Ada 85 Inovasi, Kalla: Inovasi Bermakna Bila Sudah Dikomersialkan

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Wakil Presiden (Wapres) RI, Muhammad Jusuf Kalla menghadiri puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 tahun 2019 di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Rabu (28/8/2019) pagi. 

Mengawali sambutannya, Kalla mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan, yang bermakna telah bekerja dengan baik memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk berinovasi demi kemajuan bangsa di masa depan.

“Kita menyadari setiap kemajuan itu pasti berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucapnya.

Ia berharap setiap riset dan inovasi yang dihasilkan memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan dari periode sebelumnya, atau memberi efisiensi dari sebelumnya, atau biaya yang lebih murah dari sebelumnya, atau waktu yang lebih cepat dari sebelumnya, atau yang lebih besar produktivitasnya dari yang sebelumnya. 

“Itulah inovasi, semua yang lebih baik, semua yang lebih efisien dan tentu juga yang memenangkan persaingan di antara bangsa-bangsa di dunia,” kata dia.

Kalla menyebut Indonesia memiliki 4.500 universitas, namun inovasinya baru 85.

Sedangkan China hanya memiliki 2.500 universitas, namun memiliki banyak inovasi.

Itu berarti jumlah universitas tidak relevan dengan hasilnya.

Menurutnya yang terpenting adalah intensitas dan fokus risetnya.

Halaman
123
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved