Lestarikan Kepiting Bakau, Sumasa Terima Penghargaan Labdha Kretya dari Kemenristekdikti

Sumasa mendapat penghargaan Anugerah Iptek dan Inovasi 2019 kategori Labdha Kretya dengan Sub Kategori pengembangan sumber daya alam

Lestarikan Kepiting Bakau, Sumasa Terima Penghargaan Labdha Kretya dari Kemenristekdikti
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Terima Penghargaan - Ketua Nelayan Wanasari Tuban, I Made Sumasa bersama istri setelah menerima penghargaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) saat Puncak Peringatan Hakteknas ke-24 tahun 2019 di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Bali, Rabu (28/8/2019). Lestarikan Kepiting Bakau, Sumasa Terima Penghargaan Labdha Kretya dari Kemenristekdikti 

Lestarikan Kepiting Bakau, Sumasa Terima Penghargaan Labdha Kretya dari Kemenristekdikti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua Nelayan Wanasari Tuban, I Made Sumasa (54) menjadi satu-satunya krama Bali yang mendapat penghargaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), saat Puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 tahun 2019, di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Bali, Rabu (28/8/2019).

Sumasa mendapat penghargaan Anugerah Iptek dan Inovasi 2019 kategori Labdha Kretya dengan Sub Kategori pengembangan sumber daya alam.

Penghargaan kategori ini diberikan untuk mengapresiasi prestasi masyarakat umum atas pelaksanaan inovasi yang berhasil hingga dapat menghasilkan nilai tambah, baik dalam bentuk komersial, ekonomi maupun sosial budaya.

Saat ditemui setelah menerima penghargaan, ia menyampaikan terima kasih atas pemberian penghargaan oleh Menristekdikti RI, Prof Mohamad Nasir.

"Ini menjadi salah-satu motivasi saya untuk menggali dan lebih melakukan sesuatu yang inovatif serta positif bagi alam Bali,” kata Sumasa.

Adapun produk inovasi yang diciptakan adalah pembenihan kepiting bakau, produk makanan berbasis bakau, kuliner dan ekowisata hutan bakau.

Usaha ini sudah dimulai sejak tahun 2009 hingga sekarang. Lokasi produksinya berada di Desa Adat Tuban, Kuta, Badung.

Bersama 93 nelayan lainnya, ia membudidayakan kepiting bakau dengan tujuan supaya kepiting-kepiting itu bisa berkembang dengan baik, tetapi di sisi lain tidak mengeksploitasi alam.

“Kepiting itu diperlakukan siap saji dari nol, mulai pengadaan media ternak, pembibitan, pembesaran, penggemukan, kemudian sampai siap saji di meja makan,” terangnya.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved