Timbangan Berbicara Permudah Tunanetra Mengukur Barang

Komunitas Mahasiswa Penggemar Otomasi dan Robotika (Kompor) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) juga menciptakan timbangan berbicara

Penulis: Karsiani Putri | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Karsiani Putri
Perwakilan Kompor UPI tengah berfoto di depan dispenser berbicara dan timbangan berbicara dalam Ritech Expo 2019 di Lapangan Bajra Sandi Denpasar, Bali. Timbangan Berbicara Permudah Tunanetra Mengukur Barang 

Timbangan Berbicara Permudah Tunanetra Mengukur Barang

Laporan Wartawan Tribun Bali, Karsiani Putri

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tidak hanya menciptakan dispenser berbicara, mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Penggemar Otomasi dan Robotika ( Kompor) Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI) juga menciptakan timbangan berbicara.

"Cara kerja timbangan masih sama seperti timbangan pada umumnya, kami hanya meletakkan barang di atas timbangan, yang membedakan mungkin dari suaranya, dan ada display-nya juga, jadi bisa digunakan untuk yang tidak tunanetra," ucap Mahasiswa semester 5 Jurusan Teknik Mesin UPI, Abdul Hannan Fauzi Alfani.

Timbangan berbicara didesain minimalis dan ramah terhadap disabilitas tunanetra oleh Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UKM Kompor UPI.

Adapun spesifikasi alat ini yakni materialnya terdiri dari akrilik dan warna yang bervariasi.

Berkapasitas 0.0001 kg - 5 kg untuk kebutuhan dapur.

Tegangan listrik baterai 5 volt dapat diisi ulang dengan USB charger HP.

Adapun fitur dari alat ini yakni terdiri dari speaker dan suara yang dapat diatur untuk mengetahui berat.

Kemudian tombol on/off untuk kalibrasi timbangan dengan huruf braile.

Display indikator berat juga dapat digunakan untuk pengguna normal.

Memiliki sensor berat, dan CPU yang digunakan adalah microcontroller arduino.

Setelah pembuatan produk timbangan berbicara dan dispenser berbicara, kedua produk ini akan dihibahkan kepada SLB.

Total ada enam paket yang terdiri dari dispenser berbicara dan timbangan berbicara telah dihibahkan oleh Kompor UPI kepada SLB yang ada di Jawa Barat.

"Kedua produk ini (tercipta) berdasarkan hasil survei di Sekolah Luar Biasa (SLB), kami mencari permasalahan-permasalahan yang ada di SLB, lalu kami melakukan usulan-usulan untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan terpilihlah pembuatan dispenser berbicara dan timbangan berbicara," ujarnya.

"Tanggapan dari SLB, allhamdullilah mereka merasa terbantu dan senang juga ada kelompok yang peduli dengan mereka, apalagi mahasiswa. Komunitas kami memiliki program dan salah-satunya menciptakan alat tepat guna. Dengan adanya kedua produk ini kami berharap dapat membantu tunanetra apalagi kami mahasiswa, kami ingin memenuhi salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian," ungkapnya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved