"Saya Gelap Mata Saat Layangkan Sabit", Kasus Penebasan di Festival Seririt Budaya

Polisi menetapkan Ketut Rakita alias Rakit sebagai tersangka kasus penebasan di Festival Seririt Budaya

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
JUK POLISI - Jajaran Polsek Seririt menunjukkan tersangka Rakita dan barang bukti, Rabu (28/8/2019). "Saya Gelap Mata Saat Layangkan Sabit", Kasus Penebasan di Festival Seririt Budaya 

"Saya Gelap Mata Saat Layangkan Sabit", Kasus Penebasan di Festival Seririt Budaya

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Polisi menetapkan Ketut Rakita alias Rakit (40) sebagai tersangka kasus penebasan.

Pria asal Banjar Dinas Taman Sari, Desa Sulanyah, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, ini menebas Ketut Suarjana alias Gelis (44).

Korban mengalami luka sepanjang 10 sentimeter di bagian tangan.

Rakit mengaku menebas temannya itu lantaran sakit hati.

Rakit yang saat itu sedang ngarit di sawah tiba-tiba dihampiri oleh istrinya dan mengatakan dirinya tidak diperbolehkan berjualan di perayaan Festival Seririt Budaya (Fesrida) oleh korban Gelis.

Atas laporan sang istri, Rakit lantas mendatangi Gelis yang saat itu tengah sibuk mempersiapkan lapak di Fesrida.

"Istri saya ke lapangan Seririt itu, mau ikut nyari tempat berjualan di Fesrida, karena tahun lalu istri saya jualan di festival itu. Tahu-tahu dia (Gelis) tidak ngasi istri saya berjualan karena harus bayar mahal katanya. Nilainya tidak sebut, hanya dibilang mahal. Akhirnya istri saya melapor ke saya, terus saya cari dia ke lapangan," ungkap Rakit, Rabu (28/8/2019).

Saat ke lapangan, Rakit membawa sabit yang ia gunakan sebelumnya untuk menyabit rumput di sawah. Sabit itu ia selipkan di pinggang celananya.

Setibanya di lapangan, Rakit lantas menanyakan kepada Gelis terkait alasan mengapa istrinya tidak boleh berjualan di festival tersebut.

Halaman
12
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved