Jadi Pelopor Sekolah Non Plastik, SMP di Denpasar Ini Sabet Penghargaan dari Thailand & India

SMP PGRI 3 Denpasar bisa dikatakan menjadi sekolah inovatif dan produktif, bahkan menjadi pelopor sekolah non plastik.

Jadi Pelopor Sekolah Non Plastik, SMP di Denpasar Ini Sabet Penghargaan dari Thailand & India
Tribun Bali/Noviana Windri
Pembina dan siswa SMP PGRI 3 Denpasar memperlihatkan hasil olahan limbah yang menyabet penghargaan internasional di pameran kebersihan Kota Denpasar 'Gara-gara Sampah Jilid II' di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali Jumat (30/8/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - SMP PGRI 3 Denpasar bisa dikatakan menjadi sekolah inovatif dan produktif, bahkan menjadi pelopor sekolah non plastik.

Pasalnya, melalui Yayasan Peduli Lingkungan yang beranggotakan 40 siswa SMP PGRI 3 Denpasar.

Para siswa memproduksi produk-produk yang berasal dari limbah sampah plastik, kertas maupun sisa makanan dari sekolahnya sendiri.

Pembina Yayasan Peduli Lingkungan, Kadek Sunyadnya mengatakan produk yang dihasilkan merupakan hasil tangan dari para siswa.

"Anggotanya sendiri dari anak-anak yang mengikiti ekstrakurikuler pramuka. Setiap kelas ada 2 hingga 3 orang perwakilan. Nanti tugas mereka adalah mengedukasi kepada teman-temannya yang lain untuk ikut peduli dengan lingkungan," terangnya.

Ada beberapa produk yang dihasilkan, diantaranya yakni kerajinan dari kertas bekas, pupuk kompos yang diberi nama Pupuk Kompos Spiga yang dibuat dari sisa makanan dan dedaunan di lingkungan sekolah.

"Untuk pupuk dari makanan kita bisa buat cuma 5 menit tetapi dicampur dengan zat kimia lain untuk penghancur bakterinya. Kalau pupuk dari dedauanan lebih lama prosesnya, kami perlu waktu selama 4 minggu," paparnya.

Selain itu, juga membuat bio plafon terbuat dari limbah cangkang telur dan jerami pabrik yang berhasil menyabet silver medal dalam ajang lomba penelitian internasional di Bangkok, Thailand bertajuk "Thailand Inventors Day 2019" pada Februari 2019 yang lalu.

"Kamu bekerja sama dengan ibu-ibu rumah tangga di sekitar sekolah untuk daur ulang sisa cangkang telur sisa mereka memasak untuk dijadikan bio plafon.

Sementara, pupuk, bio plafon dan lainnya belum kamu jual. Baru kami berikan sukarela kepada masyarakat di sekitar sekolah. Kalau memang sudha terbukti bagus, mungkin nanti pihak sekolah akan menyiapkan bahan baku dan dijual belikan," tambahnya.

Selain itu, juga pernah menyabet pengahrgaan tingkat dunia yakni Spesial Award 2019 saat mengikuti ajang di India dan International Best Invetation Award 2019 saat mengikuti ajang di Hongkong. 

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved