1.525 Pelanggan PDAM di Gianyar Dibidik Kejari, Nilai Tunggakan Mencapai Rp 1,1 Miliar

Ada 1.525 pelanggan atau sambungan rumah yang penagihan utangnya akan diserahkan pada Kejari Gianyar.

1.525 Pelanggan PDAM di Gianyar Dibidik Kejari, Nilai Tunggakan Mencapai Rp 1,1 Miliar
surya
Ilustrasi air PDAM 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – PDAM Gianyar dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Gianyar menandatangani kesepakatan dalam menindak para pelanggan nakal.

Pelanggan ini sebagian besar sambungan rumah yang sejak 2017 telah diputus oleh PDAM. Namun hingga saat ini tunggakan mereka belum dibayar.

Direktur Umum PDAM Gianyar, I Nyoman Darmadiasa, Jumat (30/8/2019) mengatakan, ada 1.525 pelanggan atau sambungan rumah yang penagihan utangnya akan diserahkan pada Kejari Gianyar.

Total tagihan dari pelanggan ‘bandel’ tersebut sebesar Rp 1,1 miliar lebih. Rata-rata utang per pelanggan dari Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta.

“Saat ini, sambungan mereka sudah kita cabut. Hanya saja, utangnya sampai saat ini belum dibayar. Kita serahkan ke Kejari, nanti kena sanksi hukum perdata. Namun dalam waktu dekat ini, yang akan dipanggil Kejari baru 20 pelanggan saja. Kalau tidak mau berurusan dengan hukum, lalu mau bayar sekarang, silahkan,” ujarnya.

Dirut PDAM Gianyar, Made Sastra Kencana mengatakan, nominal tunggakan Rp 1,1 miliar tersebut sangat berarti, terutama dalam meningkatkan mutu pelayanan.

Terlebih lagi saat ini, PDAM Gianyar bekerjasama dengan Asosiasi PDAM Australia dalam menangani tingkat kebocoran air.

Per Desember 2018, tingkat kebocoran tersebut berada di angka 39.87 persen.

“Biar kerja kita jalan, ilmu penanganan kebocorannya kita dapat di Australia, dan dari segi alat operasional kita bisa sediakan. Cash flow kita saat ini Rp 16 miliar dan itu tidak ada dana nganggur. Kalau Rp 1,1 miliar itu kita dapat, tentu akan berpengaruh besar terhadap perbaikan pelayanan PDAM ke depannya,” tandasnya.

Terkait kerjasama dengan asosiasi PDAM Australia, Sastra mengungkapkan, tanggal 18-24 November 2019 mendatang pihaknya akan mengirim minimal tiga orang staf untuk belajar ke Australia.

Mereka yang dikirim meliputi staf IT, staf Non-Revenue Water (RTW) dan Asset Manajemen. Biaya akomodasi dan sebagainya, dibiayai oleh pihak Australia.

“Saya tak pungkiri, pelayanan kita kerap bermasalah saat jam puncak, itu disebabkan tingkat kebocoran kita masih tinggi. Tapi kami tidak tinggal diam. Meskipun keluhan pelanggan masih ada, tapi karena upaya kita berbenah itu kuat, sehingga kami ditawari asosiasi PDAM Australia untuk belajar di sana dalam menangani kebocoran. Selama di Australia, kita tak keluar duit sepeserpun, kita ditanggung,” ujarnya.

Saat ini, kata Sastra, segala permasalahan yang dihadapi PDAM Gianyar telah dikaji di Australia.

Nanti ketika stafnya datang ke sana, mereka akan diberikan cara-cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut.

“Jangan sampai kita punya ilmu, tapi alat operasional tak mendukung. Karena itulah kami sangat berharap pelanggan mendukung kemajuan PDAM Gianyar dengan rajin membayar tagihan. Pendapatan PDAM hanya bersumber dari sana,” tandasnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved