Krama Berebut Ceceran Darah Sapi, Tradisi Majaga-jaga Netralisir Energi Sekala dan Niskala

Bertepatan dengan tilem sasih karo, Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja menggelar tradisi majaga-jaga

Krama Berebut Ceceran Darah Sapi, Tradisi Majaga-jaga Netralisir Energi Sekala dan Niskala
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Tradisi caru majaga-jaga Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung, Jumat (30/8/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Bertepatan dengan tilem sasih karo, Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja menggelar tradisi majaga-jaga, Jumat (30/8/2019).

Tradisi ini rutin digelar setiap tahun untuk menghindari malapetaka dan bencana bagi warga desa.

Suara sorak-sorai terdengar riuh di perempatan Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung.

Ketut Muliati (40), tiba-tiba berlari menjauhi rombongan pemuda yang sedang mengarak seekor sapi jantan ke ujung desa. 

Perempuan asal Tabanan tersebut sengaja jauh-jauh datang ke Klungkung untuk menyaksikan tradisi majaga-jaga.

"Saya setiap tahun rutin ke Klungkung untuk ikuti tradisi ini," ungkap Muliati.

Tradisi ini menggunakan sarana sapi yang memenuhi syarat seperti, sudah dikebiri, tidak boleh ada manggar di pungung.

Tidak boleh ada suku bang (kuku kaki berwarna merah), lidah sapi tidak boleh berwarna poleng serta tidak boleh ada panjut (ekor sapi berwarna putih).

Sebulan sebelum upacara, warga berkeliling mencari sapi sesuai syarat tersebut.

"Tradisi ini dipercaya oleh warga kami, sebagai bentuk menghindari malapetaka di seluruh penjuru desa. Tradisi ini juga dipercaya agar pertanian warga subur dan tidak gagal panen," ungkap Kelian Adat Desa Besang Tohjiwa Kawan, I Wayan Sulendra.

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved