TRIBUN WIKI
TRIBUN WIKI! 5 Pertimbangan Orang Bali Saat Akan Membangun Rumah
Saat membangun rumah, menurut kepercayaan orang Bali, ada beberapa pertimbangan yang harus terpenuhi.
Penulis: Ragil Armando | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN WIKI! 5 Pertimbangan Orang Bali Saat Membangun Rumah
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat membangun rumah, menurut kepercayaan orang Bali, ada beberapa pertimbangan yang harus terpenuhi.
Hal ini dilakukan agar rumah yang dibangun menjadi nyaman untuk ditempati tanpa mengganggu.
Dalam membangun rumah, ini pertimbangan yang dilakukan.
Mulai dari pemilihan tanah, tata letak bangunan, hingga upacara yang melekat pada setiap tahapannya.
Berikut adalah pertimbangan yang harus diperhatikan orang Bali saat membangun rumah.
1. Pertimbangan Lahan
Hal utama yang harus ada sebelum melakukan pembangunan tempat tinggal yakni tanah atau lahan.
Dalam pemilihan lahan ini perlu dipertimbangkan beberapa hal.
Dosen Bahasa Bali Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, berdasarkan lontar Rogha Sanghara Gumi mengatakan, ada empat cara untuk mengidentifikasi tempat yang baik untuk membangun rumah.
Keempat identifikasi tersebut bisa dilihat dari posisi geografis, adanya hal-hal yang tidak lumrah, berdasarkan pertanda alam, serta adanya binatang aneh.
Berdasarkan posisi geografis misalnya bangunan tumbak jalan.
"Ada pertigaan, ada bangunan pas nyaplok jalan di depannya, hal itu yang disebut tumbak jalan," kata Guna.
Untuk menghindari hal itu, biasanya seseorang membangun pemesuan atau pintu keluar tidak pas dengan arah datangnya jalan, melainkan digeser ke kanan atau ke kiri.
Guna menambahkan secara sekala setiap pertigaan pasti ada pertemuan atau daerah rawan.
Selain itu ada juga energi sekala (energi magis)
Dilihat dari hal-hal yang tidak lumrah di dalam pekarangan misal munculnya lulut.
"Sehari-hari kita sangat sulit menemukan lulut. Kecuali ada unsur-unsur tertentu yang mendukung kemunculannya," katanya.
Secara mitologis, menurut Guna hal itu menunjukkan kemunculan Ida Bhatara Sri sebagai pertanda karang panes.
Untuk mengatasi hal tersebut biasanya dilakukan upacara prayascita.
Jika ada lulut di pekarangan, kalulut baya namanya, panes karang itu.
“Parameter pertaam dalam tradisi saya di Bangli, kemunculan lulut ini pertanda karang panes. Pasti akan dilaksanakan upacara prayascita,” kata Guna yang berasal dari Bangli.
Selain itu, lulut tersebut diletakkan di dalam klungah (kelapa kecil yang sudah ada airnya), setelah itu dihanyutkan di sungai atau laut.
Penyikapan yang lebih tinggi ada juga dengan melakukan pecaruan.
Hal itu dilaksanakan jika, lulut tersebut muncul berulang-ulang di karang yang sama.
Dilihat dari pertanda alam, misalnya ada pohon kena kilap (sander kilat) hingga mati di pekarangan.
Menurutnya karang itu disebut karang kedurmanggalan atau karang cemer dan leteh.
Selain itu juga dilihat dari adanya bencana (kepancabayan) seperti angin nglinus, api, ataupun air bah yang menggenai pekarangan.
"Walaupun hal itu adalah murni karena alam, namun masyarakat Bali memaknainya secara sekala dan niskala. Dan biasanya akan disikapi dengan melakukan pembersihan atau penyucian," tambah Guna.
Yang terakhir yang menjadi ceciri karang panes adalah datangnya binatang ane ke pekarangan.
Menurut Guna, dulu ada kidang yang masuk ke pekarangan rumah sampai berkeliling.
Hal itu biasanya langsung disikapi dengan melaksanakan upacara pembersihan.
"Apalagi ada ular masuk sampai ke dalam rumah. Pasti karang itu bermasalah dan bisa dikatakan sebagai karang panes," tutupnya.
2. Pertimbangan Hari Baik
Dalam membangun rumah di Bali juga memperhatikan hari baik atau dewasa.
Hal ini bertujuan agar penghuni rumah mendapatkan kebahagiaan dan tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan suatu saat nanti.
Mereka juga percaya, jika mulai membangun rumah saat harinya kurang baik, bisa berbahaya bagi pemiliknya.
Misalnya mereka tidak akan melakukan pembangunan rumah saat Randa Tiga atau langkahin rerahinan.
3. Pertimbangan Konsep Tri Mandala
Pembangunan rumah oleh masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu selalu memperhatikan konsep Tri Mandala yakni Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala.
Utama Mandala merupakan tempat suci atau merajan.
Merajan atau tempat suci ini dibangun di sebelah utara (hulu) atau di timur.
Sedangkan pada Madya Mandala yakni rumah itu sendiri beserta halamannya.
Dan untuk Nista Mandala yakni teba atau tegalan atau tempat pembuangan.
4. Pertimbangan Letak Pintu Masuk Pekarangan
Dalam membuat pintu masuk pekarangan rumah juga ditentukan dengan seksama.
Semisal arah yang baik dan ukuran pintu masuknya juga ditentukan.
Selain itu tak boleh ada banyak pintu masuk karena akan membuat penghuninya boros.
Dan ada pula larangan membuat pintu masuk di bucu mati atau pada ujung pertemuan tembok rumah.
5. Pertimbangan Penerapan Konsep Tri Hita Karana
Saat membangun rumah juga ada konsep Tri Hita Karana atau hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam atau Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.
Hal ini erat kaitannya dengan konsep Tri Mandala.
Di merajan merupakan tempat manusia melakukan persembahyangan yang merupakan implementasi dari Parahyangan.
Di rumah merupakan implementasi dari Pawongan atau tempat berinteraksi sesama manusia.
Dan di tegalan atau tebaa merupakan implementasi dari Palemahan, atau hubungan manusia dengan alam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-pembangunan-pasar-baru-di-desa-culik-kecamatan-abang-karangasem-bali-selasa-2082019.jpg)