Bangli Tak Ambil Jatah Transmigrasi, Tekstur Tanah Kapur dan Berbatu Jadi Alasan

Kuota transmigrasi tahun 2019 tidak diambil oleh calon transmigran asal Bangli. Kendala lahan kapur dan berbatu menjadi alasannya.

Bangli Tak Ambil Jatah Transmigrasi, Tekstur Tanah Kapur dan Berbatu Jadi Alasan
dok. ist.
Kondisi lokasi transmigrasi di wilayah Sumba, NTT. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Kuota transmigrasi tahun 2019 tidak diambil oleh calon transmigran asal Bangli.

Kendala lahan kapur dan berbatu, dinilai menjadi alasan minimnya calon transmigran untuk mengikuti program tersebut.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Koperasi, UMKM, Tenaga Kerja dan Tansmigrasi, Tjokorda Gede Agung Panji mengatakan, dari 10 kuota yang diberikan oleh pemerintah pusat untuk Bali, hanya Buleleng, Gianyar, dan Karangasem yang mengambil jatah tersebut.

“Informasi sementara, Kabupaten Buleleng dan Gianyar masing-masing mengisi empat KK (kepala keluarga) calon transmigran. Sedangkan Kabupaten Karangasem satu KK. Kalau kami tidak jadi ambil tahun ini karena tidak ada yang mendaftar. Walaupun kami sudah adakan sosialisasi dan pendekatan, juga tetap nihil pendaftar,” ungkapnya, Minggu (1/9/2019).

Alasan tidak ada calon transmigran yang berminat, disebabkan lokasi penempatan berada di wilayah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Wilayah tersebut dinilai memiliki tekstur tanah kapur dan berbatu. Pihaknya tidak memungkiri, kesulitan saat melakukan sosialisasi.

“Kami sudah melakukan pendekatan, sudah juga bersurat ke masing-masing kepala desa yang wilayahnya merupakan kantong transmigrasi. Namun sampai saat ini tidak ada minat untuk transmigrasi. Apalagi tempatnya di NTT yang merupakan lahan kering,” ujarnya.

Di lain sisi, pria yang juga Kasi Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini mengungkapkan, calon transmigran asal Bangli lebih berminat apabila lokasinya berada di wilayah Sulawesi Selatan.

Sebab wilayah tersebut memiliki lahan basah serta dinilai cocok untuk lahan pertanian.

Disinggung soal daftar tunggu calon transmigran di Bangli, Tjok Panji mengungkapkan sejak tahun 2018 pihaknya telah melakukan pemutihan.

Upaya ini dilakukan sebab daftar tunggu sebelumnya, dinilai tidak lagi relevan.

Terlebih ada yang masuk daftar tunggu sejak tahun 90an, di mana dari segi usia dinilai tidak layak untuk ikut program transmigrasi.

“Sebelum kami lakukan pemutihan, sudah sempat dilakukan penjajagan ke orangnya. Rata-rata dari mereka sudah bekerja dan tidak lagi berminat. Sedangkan untuk mengikuti program transmigrasi, dipilih warga berpenghasilan rendah dan masih produktif. Yakni di usia 35 hingga 40 tahun. Selain itu mereka juga wajib memiliki keterampilan,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved