Didakwa, WN Belanda Ajukan Keberatan, Diduga Perdagangkan Kerajinan dari Satwa Dilindungi

Didakwa, WN Belanda Ajukan Keberatan, Diduga Perdagangkan Kerajinan dari Satwa Dilindungi

Didakwa, WN Belanda Ajukan Keberatan, Diduga Perdagangkan Kerajinan dari Satwa Dilindungi
Tribun Bali/Putu Candra
Didakwa, WN Belanda Ajukan Keberatan, Diduga Perdagangkan Kerajinan dari Satwa Dilindungi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Eric Roer (56) menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (2/9. Warga Negera Asing (WNA) asal Belanda didudukan di kursi pesakitan sebagai terdakwa perkara dugaan memperdagangkan barang-barang kerajinan yang terbuat dari tubuh maupun kulit satwa dilindungi selama kurun waktu 2013 sampai 2017. Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Eric yang tinggal di Bali sejak tahun 2003 ini dikenakan dua dakwaan.

Terhadap dakwaan dari Jaksa Ni Luh Oka Ariani Adikarini, terdakwa Eric melalui penasihat hukumnya mengajukan keberatan atau eksepsi. Diajukan keberatan menurut Putu Suta Sadnyana selaku penasihat hukum terdakwa, karena dakwaan jaksa dinilai tidak cermat. “Dakwaan penuntut umum tidak cermat. Kami mengajukan eksepsi," ucapnya mengungkap alasan mengajukan eksepsi.

Sementara Jaksa Oka Ariani mendakwa terdakwa yang di Belanda beralamat di Van Waerschutstraat 32 Rotterdam, dan di Bali tinggal di Jl. Werkudara Pondok Durian no 5 Legian Kaja, Badung ini ini dengan dakwaan kesatu dan kedua. Dakwaan kesatu, Pasal 21 ayat (2) huruf b jo Pasal 40 ayat (2) UU RI No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dakwaan kedua, Pasal 21 ayat (2) huruf d jo Pasal 44 ayat (2) UU RI No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Pula dibeberkan dalam surat dakwaan awal mula terdakwa mengimpor kerajinan dari Bali ke Belanda. Pria yang tidak memiliki pekerjaan tetap, itu memulai usahanya pada akhir 2013 sampai awal 2014. Eric melakukan pengiriman barang dari Bali ke Belanda berupa barang kerajinan tangan dekorasi rumah dan patung kayu. Termasuk di antaranya berasal dari satwa yang dilindungi. Perbuatan terdakwa memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

"Terdakwa Eric mengirim kepada Hans Timmers selaku pemilik perusahanan perusahaan Timmers Gems beralamat di Belanda. Perusahaan Hans bergerak di bidang jual beli macam-macam kerajinan," terang Jaksa Oka Ariani dihadapan majelis hakim pimpinan Heriyanti.

Terdakwa sendiri mengenal Hans sejak 2014. Sejak saat itu terdakwa mendapat pesanan dari Hans. Kemudian terdakwa mencari pesanan di beberapa art shop atau toko kerajinan yang ada di Bali. Terdakwa lantas mengirimkan foto-foto barang tersebut pada Hans berikut harga barang ditambah 5 persen untuk keuntungan terdakwa Eric.

Setelah itu terdakwa menerima uang harga kerajinan plus 5 persen keuntungan yang ditransfer Hans melalui Bank Mandiri KCP Legian atas nama saksi Indi Restu Windari. Selanjutnya terdakwa melakukan pembayaran ke art shop dan memperoleh catatan pembelian barang.

Terdakwa kemudian menghubungi saksi I Made Suryadi selaku pemilik PT Praba Surya Internasional di Jalan Pura Bagus Teruna, Nomor 30A, Legian Kaja, Kuta, Badung, yang bergerak di bidang jasa pengepakan barang dan pengiriman barang ke luar negeri. "Setelah menerima catatan dari terdakwa, saksi Suryadi mengumpulkan dan mengepak barang sebanyak 30 kubik atau satu kontainer," beber jaksa dari Kejari Denpasar itu.

Kemudian saksi Suryadi melapor kepada terdakwa bahwa pengiriman sudah siap. Selanjutnya terdakwa lapor kepada Hans. Namun, bisnis tersebut terendus Kepolisian dan Kejaksaan Belanda. Aparat di Negeri Kincir Angin kemudian bergerak melakukan penyelidikan di gudang milik Hans pada Agustus dan Oktober 2019.

Dari hasil penggeledahan tersebut ditemukan berbagai kerajinan yang terbuat dari tubuh/kulit satwa dilindungi dari Indonesia. Di antaranya satu biji tengkorak kepala babirusa; 110 biji gelang akar bahar; 11 biji moncong hiu gergaji; 2 biji tengkorak buaya;74 kulit biawak; 206 kilogram terumbu karang; 10 biji tengkorak monyet; 12 biji kulit ular piton; 33 biji kulit ular kobra; dan 7 biji kulit ular kobra utuh.

Terhadap temuan barang tersebut tidak ditemukan dokumen CITES atau dokumen persyaratan perizinan impor manajemen CITES di Belanda dan izin ekspor dari manajemen CITES di Indonesia. Dari pemeriksaan Kejaksaan Belanda – Indonesia, ada beberapa satwa yang dilindungi. Yaitu tengkorak buaya; moncong hiu; tengkorak penyu; tengkorak kepala babirusa; dan gelang akar bahar. CAN

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved