WN Rusia Menolak Didampingi Penasihat Hukum, Sempat Kabur dari Tahanan Polda Bali

WN Rusia Menolak Didampingi Penasihat Hukum, Sempat Kabur dari Tahanan Polda Bali

WN Rusia Menolak Didampingi Penasihat Hukum, Sempat Kabur dari Tahanan Polda Bali
Dok Polda Bali/Kolase Tribun Bali
Tutupi daun - Andrei Spiridonov (kiri), dan aksinya kelabui kejaran petugas sesaat sebelum ditangkap oleh kepolisian pada Minggu malam kemarin di sebuah parit Gang Tunjung Sari,Tohpati Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Andrei Spiridonov (36) menolak didampingi penasihat hukum, meski majelis hakim menawarkan didampingi penasihat hukum tanpa mengeluarkan biaya.

Warga Negera Asing (WNA) asal Rusia ini hanya didampingi seorang alih bahasa.

Melalui alih bahasanya, yakni Wayan Ana mengatakan, terdakwa Andrei yang sempat kabur kala ditahan di Polda Bali itu bulan April lalu itu menolak didampingi penasihat hukum.

Andrei sendiri menjalani sidang perdana mengagendakan pembacaan surat dakwaan terkait kasus narkotik.

"Saya mengerti pengadilan menyediakan pengacara tanpa dibayar. Tapi saya yakin majelis hakim sudah mengerti perkara saya," jelas Wayan Ana menerjemahkan perkataaan terdakwa Andrei di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (3/9).

Namun sebelum Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan surat dakwaan, majelis hakim pimpinan Dewa Budi Watsara menanyakan identitas terdakwa. Terdakwa pemegang pasport No. 730667929 mengaku tinggal tidak menetap di Bali alias nomaden. "Apa pekerjaan terdakwa," tanya Hakim Ketua Budi Watsara. "Terdakwa mengaku punya banyak pekerjaan. Sebagai konsultan psikologi, yoga, pijat dan spiritualis," terang Wayan Ana. "Pendidikan terakhir terdakwa, perguruan tinggi bidang psikologi," sambung Wayan Ana.

Sementara Jaksa I Made Dipa Umbara mewakili Jaksa Dewa Ayu Wahyuni Mesi dalam surat dakwaan, mendakwa Andrei dengan dakwaan alternatif. Dakwaan pertama disebutkan, bahwa terdakwa tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotik golongan I dalam bentuk tanaman. Berupa 1 plastik tertempel tulisan Mimosa Hostilis Hidden Valley 200 gr berisi potongan batang tanaman berwarna ungu mengandung sediaan narkotik jenis N, N-Dimethyltryptamine (DMT) seberat 200 gram netto.

"Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana Pasal 111 ayat (1) Undang-Undang RI No.35 tahun 2009 tentang Narkotik," terang Jaksa Dipa Umbara. Dimana ancaman pidananya paling lama 12 tahun penjara.

Atau kedua, terdakwa menyalahgunakan narkotik golongan I bagi diri sendiri. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No.35 tahun 2009 tentang Narkotik. Ancaman pidananya, maksimal empat tahun penjara.

Terhadap dakwaan jaksa tersebut, terdakwa mengaku mengerti dan tidak mengajukan keberatan. Dengan tidak diajukannnya keberatan, harusnya sidang dilanjutkan dengan pembuktian. Namun jaksa belum siap menghadirkan para saksi. Sehingga sidang dilanjutkan Kamis pekan depan.

Sebagaimana diungkap dalam surat dakwaan, bahwa terdakwa ditangkap pada hari Selasa, 23 April 2019 sekitar pukul 10.15 Wita di halaman parkir belakang Kantor Pos Cabang Renon, Jalan Raya Puputan Renon, Denpasar. Ditangkapnya terdakwa berawal saat dia memesan barang, yakni potongan batang tanaman yang berwarna ungu yang mengandung sediaan narkotik jenis N, N-Dimethyltryptamine (DMT). Terdakwa memesan melalui internet di website.

Lebih lanjut dijelaskan Jaksa Dipa Umbara, terdakwa membeli Mimosa Hostilis Hidden Valley sebanyak 200 gram seharga 37 Dollar Amerika. Juga, Banisteriopsis caapi 30x Yello Ecuador sebanyak 200 gram dengan harga 160 Dollar Amerika. Terdakwa melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit miliknya.

Kemudian barang yang dipesannya sampai di Kantor Pos Cabang Renon. Petugas Bea dan Cukai yang bertugas di sana melakukan pemeriksaan terhadap barang kiriman dari Belanda itu. Kiriman itu adalah 1 kotak kardus bertuliskan From Kampshoff Cancultancy Nieuweweg 5b 2033 DK Harleem The Netherlands dengan karal nomor: RN42589099NL. Namun tidak tertera nama penerima. Hanya tertera alamat, di Jalan Pura Batu Pageh Bali.

"Petugas Bea dan Cukai curiga lalu berkoordinasi dengan petugas kepolisian tentang adanya dugaan barang kiriman mencurigakan yang ada di Kantor Pos Cabang Renon," jelas Jaksa Dipa Umbara.

Kemudian terdakwa mengambil paket itu, saat itu juga petugas melakukan penangkapan dan pemeriksaan. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap paket itu terdapat 1 plastik tertempel tulisan Mimosa Hostilis Hidden Valley 200 gr berisi potongan batang tanaman berwarna ungu mengandung sediaan narkotik jenis N, N-Dimethyltryptamine (DMT) seberat 200 gram netto, terdakwa mengakui paket itu adalah miliknya. CAN

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved