Aryawan Bersimpuh di Kaki Juru Sita, Minta Eksekusi Rumah Dilakukan Saat Purnama Kapat

Seluruh perabotan rumah tangga, yang ada di dalam rumah seluas 4.600 meter per segi itu berhasil dikeluarkan, berdasarkan surat penetapan No 12/Pdt.Ek

Aryawan Bersimpuh di Kaki Juru Sita, Minta Eksekusi Rumah Dilakukan Saat Purnama Kapat
TRIBUN BALI/RATU AYU ASTRI DESIANI
Aryawan Bersimpuh di Kaki Juru Sita saat proses eksekusi rumah sekaligus kos, milik Ni Made Sudarmi di Jalan Dewi Sartika Selatan, No 12 A Singaraja berlangsung dramatis, Jumat (6/9/2019). 

Aryawan Bersimpuh di Kaki Juru Sita, Minta Eksekusi Rumah Dilakukan Saat Purnama Kapat

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Proses eksekusi rumah sekaligus kos, milik Ni Made Sudarmi di Jalan Dewi Sartika Selatan, No 12 A Singaraja berlangsung dramatis, Jumat (6/9/2019).

Sang pemilik rumah berusaha menghalangi petugas yang hendak melakukan pengosongan barang.

Tak pelak sebanyak 50 personel kepolisian dari Polres Buleleng dan Polsek Kota Singaraja pun diterjunkan untuk melakukan pengamanan.

Dari pantauan di lokasi, Gusti Ketut Adi Yustika Aryawan selaku anak dari Ni Made Sudarmi, meminta kepada petugas juru sita dari Pengadilan Negeri Singaraja untuk tidak mengosongkan rumahnya saat itu juga.

Ia ingin pengosongan itu dilakukan di hari baik, yakni saat Purnama Kapat yang jatuh pada 14 Oktober mendatang.

Sungai Ingin Tetap Bersih dan Penuh Ikan? Belajar Yuk ke Banjar Bangun Liman

Bayi Dikubur Hidup-hidup, Jam 2 Pagi Menangis dan Bikin Heboh Warga, Kondisinya Saat Ditemukan

Bahkan, Aryawan pun rela bersimpuh di kaki sang petugas juru sita, yang diketahui bernama Ketut September.

"Ini berkaitan dengan leluhur saya. 14 Oktober Purnama Kapat, silahkan melakukan pengosongan. Nunas tulung (minta tolong) pak," ucap Aryawan di kaki petugas juru sita.

Namun upaya menghalangi petugas selama kurang lebih 1,5 jam ini pun gagal.

Seluruh perabotan rumah tangga, yang ada di dalam rumah seluas 4.600 meter per segi itu berhasil dikeluarkan, berdasarkan surat penetapan No 12/Pdt.Eks/2018/PN.Sgr.

Petugas juru sita hanya memberikan waktu bagi Aryawan untuk mengosongkan pelinggih yang ada di rumahnya, pada 14 Oktober mendatang.

Rumah yang sekaligus dimanfaatkan sebagai kos-kosan itu sebelumnya dijadikan jaminan kredit di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sri Artha Lestari senilai Rp 2,5 Miliar.

Kredit itu kemudian bermasalah, sehingga jaminan itu dilelang pihak bank.

Atas penetapan lelang, pemohon Gede Budi Indrawan asal Denpasar, yang diwakili kuasa hukumnya I Nyoman Jaya meminta kepada juru sita PN Singaraja untuk melakukan eksekusi pengosongan.

Sementara Juru Sita PN, Ketut September mengatakan, eksekusi pengosongan tanah dan bangunan ini dilakukan setelah adanya surat kuasa khusus tanggal 23 Mei 2018 dan Kutipan Risalah Lelang dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) No. 108/66/2018 tanggal 27 April 2018. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved