Begini Kecemasan Warga Dayak Paser Menyambut Penetapan Lokasi Ibu Kota Baru Indonesia

Setidaknya terdapat empat desa komunitas adat Dayak Paser di wilayah yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi

Begini Kecemasan Warga Dayak Paser Menyambut Penetapan Lokasi Ibu Kota Baru Indonesia
Dok BBC Indonesia via KOMPAS.COM
Penajam Paser Utara dihuni komunitas Dayak Paser, transmigran asal Jawa Tengah, dan para pekerja perkebunan sawit. 

Begini Kecemasan Warga Dayak Paser Menyambut Penetapan Lokasi Ibu Kota Baru Indonesia

TRIBUN-BALI.COM- Warga adat Dayak Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), cemas lahan yang mereka tinggali secara turun-temurun bakal tergusur ibu kota baru yang ditargetkan menampung 1,5 juta orang.

Setidaknya terdapat empat desa komunitas adat Dayak Paser di wilayah yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi pusat pemerintahan baru.

Terdapat pula 13 wilayah adat di sekitar ibu kota baru yang akan berpusat di Kecamatan Sepaku, PPU; dan Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, merujuk pemetaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara.

Namun pemerintah membantah bakal menggusur wilayah adat. Mereka berjanji memasukkan kepentingan warga Dayak Paser dalam rencana besar pemindahan ibu kota.

Nada suara Sabukdin tak bergairah saat membincangkan wacana ibu kota baru. Kepala Adat Paser di Sepaku ini mengaku terlanjur memendam antipati pada beragam program bertajuk pembangunan dan perekonomian.

Ramalan Zodiak Hari Ini Sabtu 7 September 2019: Libra Akhirnya Membuat Kemajuan, Cancer Berusaha

UPDATE Rencana Bandara Bali Utara, Jalur ke Bandara akan Diusulkan dari Arah Bangli

Ibu kota baru, menurut Sabukdin, tak akan berbeda dengan alih fungsi hutan demi perkebunan kelapa sawit dan pengolahan kayu.

Artinya, kata dia, warga Dayak Paser kembali berpotensi kehilangan hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka, dari pangan, papan, hingga persembahan untuk ritual sakral adat.

"Saya waswas kalau ibu kota benar dipindah ke sini, kecuali pemerintah menjamin tatanan adat, situs dan hak-hak kami tidak punah," ujar Sabukdin kepada BBC News Indonesia, Kamis (7/9/2019).

"Kami ingin daerah kami ramai, tapi bukan berarti kami menderita, hanya menonton."

Halaman
1234
Editor: DionDBPutra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved