Email Dibajak, Bule Kanada di Bali Ini Tertipu Rp 1 M, Dua Pelaku asal Jogja & DKI Diringkus Polisi

Polda Bali mengamankan pelaku pembajakan email dengan meminta uang sejumlah Rp 1 miliar.

Email Dibajak, Bule Kanada di Bali Ini Tertipu Rp 1 M, Dua Pelaku asal Jogja & DKI Diringkus Polisi
dokumentasi tribuntimur
ILUSTRASI TANGAN DIBORGOL 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Polda Bali mengamankan pelaku pembajakan email dengan meminta uang sejumlah Rp 1 miliar.

Pelaku tersebut adalah S (34) asal Yogyakarta, dan R (30) Jakarta Barat

Dalam jumpa pers terkait kasus email hijacking atau pembajakan email yang berhasil diungkap kepolisian, Dir Krimsus Polda Bali, Kombes Pol Yuliar Kus Nugroho menjelaskan, kasus berawal pada Jumat (22/2/2019) korban WNA Kanada bernama Cristof berencana membeli sebidang tanah di Bali melalui notaris di Badung.

Salah satu notaris di Badung kemudian menjelaskan, korban harus membuat perjanjian sekaligus menjelaskan pembayarannya dengan cara transfer dan jika genap Rp 1,3 miliar, maka transaksi akan terjadi.

Kemudian pada Kamis (14/3/2019) korban mentransfer uang sebesar Rp 340 juta ke rekening yang diberikan dan mengirim bukti transfer ke email milik notaris dengan alamat dar*******_notaris@yahoo.com.

"Nah pada  tanggal 15 Maret 2019, korban menerima email dari alamat email yang sama dari notaris itu yang isinya bahwa agar pembayarannya dirubah melalui rekening BRI Jakarta atas nama pelaku S," ujarnya, Minggu (9/9/2019).

Kemudian korban melakukan tiga kali transfer sampai berjumlah Rp 1 miliar lebih.

Selanjutnya, korban mengirim pesan melalui whatsApp ke notaris untuk menanyakan uang pembayaran tersebut.

Namun ternyata menurut keterangan notaris uang yang masuk baru Rp 340 juta dan tidak pernah mengganti rekening.

"Dari kejadian tersebut, notaris baru sadar bahwa terhadap alamat emailnya telah di bajak oleh orang untuk melakukan penipuan," ujarnya.

Dari hasil laporan tersebut, ditemukan data bahwa benar pelaku S menerima uang transferan ke rekeningnya sejumlah lebih dari Rp 1 miliar dan dikirim kembali ke pelaku R.

"Di mana pelaku S dan R digunakan sebagai rekening penampung. Terhadap keberadaan pelaku utama yang melakukan pembajakan terhadap akun email tersebut saat ini masih dilakukan penyelidikan. Kalau untuk sekongkol diantara notaris ini kami masih proses penyelidikan juga. Jadi ini kan pelaku yang memang mengaku menerima uang tersebut dan pasti kita melakukan pengembangannya," ujarnya. 

"Modusnya, pelaku meretas akun email milik notaris dan mengirim pesan ke pelapor seolah-olah pemilik email dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dengan memberikan rekening baru untuk proses pembayaran tanah tanpa sepengetahuan pihak notaris sehingga terhadap uang yang seharusnya dikirim ke rekening notaris, dikirim ke rekening lain oleh pelapor," imbuhnya. 

Terhadap perbuatan tersebut, pelaku dijerat Pasal 82 dan/atau [asal 85 Undang-Undang Nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana dan/atau Pasal 28 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (1) dan/atau Pasal 35 dan/atau Pasal 36 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 3, Pasal 5 dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan/atau Pasal 378 KUHP, dengan ancaman penjara maksimal 8 tahun. 

Barang bukti yang telah diamankan berupa, buku Tabungan milik tersangka R dan S, mutasi rekening milik tersangka R dan S, hanphone milik tersangka R dan S. (*) 

Penulis: Rino Gale
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved