Ikan di Danau Tamblingan Berkurang, I Putu Edi Setyawan hanya Peroleh 1-2 Kilo Per Harinya

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, nelayan I Putu Edi Setyawan mengaku tahun ini ikan yang didapatkannya sedikit sekali.

Ikan di Danau Tamblingan Berkurang, I Putu Edi Setyawan hanya Peroleh 1-2 Kilo Per Harinya
Tribun Bali/Rino Gale
Nelayan di Danau Tamblingan, I Putu Edi Setyawan sedang menjual hasil tangkapannya ke warga setempat, Minggu (8/9/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Bali - Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM - Danau Tamblingan yang terletak di lereng sebelah utara Gunung Lesung, kawasan Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali ini selain memiliki keindahan panorama alam, juga sebagai tempat dimana warga setempat mencari nafkah sebagai nelayan.

Terdapat tiga jenis ikan yang didapat di Danau Tamblingan, di antaranya ikan mujair, lele, dan kaper.

Namun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, nelayan I Putu Edi Setyawan mengaku tahun ini ikan yang didapatkannya sedikit sekali.

Per harinya saja, ia mendapatkan ikan hanya 1-2 kilo yang kemudian dijual untuk kebutuhan sehari-hari.

"Ya cuacanya kurang bagus dan musimnya enggak tentu kadang, Ini aja jaring ikan hanya dapat 2 kilo ikan mujair saja. Kalau bulan purnama itu sepi ikan, karena dia enggak muncul. Kalau dapat 2 kilo begini, biasa saya jual ke warga setempat sini aja. Dengan harga per kilonya Rp 25 ribu," ujarnya saat dijumpai usai menjaring di Danau Tamblingan, Minggu (8/9/2019).

Tangis Komang Suci dan Mami Wayan Pecah, Wajib Bayar Ratusan Juta pada Gadis yang Dijadikan PSK

60 Ribu Bibit Lobster dari Lombok Diselundupkan, Total Kerugian Negara Mencapai Rp 16 Milyar

"Kalau tahun-tahun lalu itu bisa dapat 30-50 Kilo. Dari hasil tangkapan yang banyak itu saya jualnya ke pasar," imbuhnya.

Dengan memakai kerpus penutup kepala dan ember di genggaman, setiap pagi Putu Edi Setyawan berangkat menuju danau untuk menjaring atau mengecek hasil tangkapan dengan perahu jukung miliknya.

Ia menjelaskan, menjaring ikan juga ditentukan dari kedalamannya. Kemudian jaring tersebut ditinggal beberapa jam atau hari biar ikan terjebak.

"Biasanya pasang jaring di kedalaman 70 meter dengan jarak 2- 3 km dari bibir danau. Ya biasa pasang 25 jaring," ucapnya.

Putu Edi Setyawan sangat bersyukur bisa bekerja sebagai nelayan di Danau Tamblingan dengan memiliki perahu jukung sendiri. Perahu jukungnya terbuat dari kayu hibicus yang tahan dan kuat selama 2,5-3 tahun.

"Saya baru dua tahun menjadi nelayan di sini, ya sebelumnya kerja buat batako saja. Sebelum jadi nelayan seperti ini saya belajar sama temen-temen dan beli perahu sendiri seharga Rp 2,5 juta. Perahu ini juga gak selamanya tahan lama. Batasnya 2,5-3 tahun saja. Ya kalau ingin menambah tahan lama dan kuat ya di cat," ujarnya.

Gudang Kayu Dilalap Si Jago Merah Diduga Akibat Dupa yang Masih Menyala

Lama Tak Ada Kabar, Kini Nasib Blasteran Ini Mengejutkan, Dipanggil KPK Hingga Bisnis Bangkrut

Walaupun penghasilan yang tak menentu, Putu Edi Setyawan mampu menyekolahkan ketiga anaknya.

"Dari hasil tangkapan ikan sperti ini ya dibilang cukup sih ya tidak ya. Tapi saya selalu berusaha terus untuk keluarga kecil saya. Anak pertama saya sudah sekolah di SMK Bali Mandara dan mendapatkan beasiswa. Dan kedua adiknya masih menginjak SMP dan SD," ujarnya lagi. (*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved