Simpang Ring Banjar

Nyomya Butha Kala dengan Siat Sambuk, Tradisi Banjar Poh Gending Tabanan Saat Pengerupukan

Banjar Poh Gending, Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan, saat malam Pangerupukan memiliki sebuah tradisi yang berbeda dengan daerah lainnya

Nyomya Butha Kala dengan Siat Sambuk, Tradisi Banjar Poh Gending Tabanan Saat Pengerupukan
Banjar Poh Gending
Banjar Poh Gending, Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan, saat malam pengerupukan memiliki sebuah tradisi yang berbeda dengan daerah lainnya. Adalah tradisi "Siat Sambuk" yang bertujuan untuk nyomya butha kala saat malam Tilem Kasanga. Nyomya Butha Kala dengan Siat Sambuk, Tradisi Banjar Poh Gending Tabanan Saat Pengerupukan 

Setelah beberapa jam, ketika semua pasukan terlihat kelelahan dan salah-satu pasukan dianggap sebagai pemenang, barulah ritual ini dihentikan.

Sang komando kemudian langsung memerintahkan untuk berkumpul di pertigaan banjar setempat untuk nunas tirta.

Mereka kemudian saling bersalaman dan berangkulan, seolah tidak ada "pertempuran" dahsyat yang mereka lakukan sebelumnya.

Ini menunjukkan tali persaudaraan yang sangat kuat meskipun sebelumnya mereka berbeda kelompok. 

Sempat Kehilangan Taksu 

Tradisi ini sempat vakum atau kehilangan taksunya.

Entah apa yang menyebabkan peristiwa itu terjadi.

"Malah pernah, pengerupukan yang biasanya dengan siat sambuk ditiadakan kemudian diganti dengan pawai obor dan pawai kulkul anak-anak. Hal itu membuat banyak warga yang merasakan ada sesuatu yang hilang atau istilahnya hambar," ungkapnya.

Bendesa Adat Poh Gending, I Made Jelas, menjelaskan akhirnya mereka membuat paruman banjar sehingga diputuskan agar ritual siat sambuk itu digelar kembali saat pengerupukan.

Namun masalahnya, "pasukan tempur" kadang tidak seimbang jumlahnya.

Kemudian disiasati, tidak ada lagi wong kaja dan wong kelod.

Semua krama dicampur kemudian dibagi dua kelompok.

Pada tahun 1995, untuk pertama kalinya pengerupukan tanpa wong kaja dan wong kelod digelar.

Walau tensi emosi tidak setinggi dulu, namun esensi inti dari siat sambuk tidak berkurang.

"Sehingga kami yang peduli akan pelestarian budaya warisan leluhur, mencoba lagi merekonstruksi bagaimana ritual "siat sambuk" itu digelar dengan memodifikasi sesuai perkembangan zaman," tegasnya.

Ia berkeyakinan, ritual ini akan ajeg karena merupakan sebuah tradisi langka, satu-satunya yang ada di Kabupaten Tabanan.

"Untuk pengerupukan sekarang, dimodifikasi dan diberikan penambahan, misalnya hiburan-hiburan tari yang sifatnya spontanitas," ucapnya.

"Semoga dengan adanya rekonstruksi ini, budaya leluhur nan langka ini tetap lestari sepanjang zaman," harapnya.

(*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved