Koster Ke Jakarta, Cok Ace Sebut Lampu Hijau Untuk Pembangunan Bandara di Buleleng

Membangun bandara tidak cukup dengan waktu satu, dua atau lima tahun, tetapi bisa sampai 10 tahun baru bisa Bandara itu operasional.

Koster Ke Jakarta, Cok Ace Sebut Lampu Hijau Untuk Pembangunan Bandara di Buleleng
Tribun Bali / Ratu Ayu Astri Desiani
Lahan untuk rencana lokasi pembangunan bandara Buleleng 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster bersama Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana telah dipanggil Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi untuk membahas rencana pembangunan Bandara di Bali Utara.

Terkait hasil dari pertemuan tersebut, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) mengatakan belum mendapat informasi langsung dari Gubernur mengenai apa yang menjadi hasil pertemuan.

Saat ini dikabarkan Gubernur Koster masih berada di Jakarta.

“Saya belum dengar, beliau belum pulang dari Jakarta. Saya belum tahu beritanya bagaimana. Tetapi saya dengar di media, katanya sudah lampu hijau untuk Buleleng,” kata saat ditemui Tribun Bali di Kantor PHDI Provinsi Bali, Selasa (10/9/2019).

Berdasarkan informasi yang didapat tahapannya nanti akan didahului dengan membuat jalan atau aksesibilitasnya.

Menurutnya aksesibilitas penting karena bagaimanapun mobilisasi bahan-bahan bangunan yang akan dikirim menuju Bandara baru, dan sebagainya tidak bisa lancar tanpa adanya akses jalan yang memadai.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Ketua Sementara DPRD Bali, Nyoman Sugawa Korry menyampaikan seharusnya pembangunan antara Bandara Bali Utara, dan pembangunan akses jalan bisa dilakukan bersama-sama.

Seperti misalnya, kata dia, akses jalan berupa Short cut sudah mulai dibangun.

Kemudian semestinya proses pembangunan bandara juga berjalan, dimulai dari persiapan lahan, feasibility study dan sebagainya.

Menurut Sugawa Korry, membangun bandara tidak cukup dengan waktu satu, dua atau lima tahun, tetapi bisa sampai 10 tahun baru bisa Bandara itu operasional.

Sehingga pembangunan Bandara Bali Utara diharapkan dapat selesai bertepatan dengan puncak kapasitas Bandara Ngurah Rai.

“Ngurah Rai ini kan diperkirakan mencapai kapasitas puncak, dengan sekarang direhab dan diperluas, antara 10 sampai 15 tahun,” ujar politisi Golkar ini.

Sehingga dengan begitu ketika Bandara Ngurah Rai mencapai kapasitas puncak, maka sudah ada Bandara alternatif lainnya.

Kembali ia menegaskan, harapan dari Dewan, pembangunan keduanya dapat berjalan bersama-sama, karena pembangunan Bandara harus ada Feasibility Study, dan bagaimana terkait investornya.

“Kita sarankan begitu. Jangan (akses jalan) ini menunggu selesai dulu, kemudian baru (dibangun Bandara). Atau jangan (Bandara) di sana mendahului selesai, kalau itu menunggu selesai kalau nanti selesai Bandara tidak ada pesawat yang datang kan juga rugi. Maka dari itu harus dibangun bersama,” ucapnya. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved