27 KK di Awen Jembrana Kekurangan Air Bersih

27 KK di Awen Lelateng, Jembrana, Bali, kekurangan air bersih. BPBD akan segera lakukan distribusi air

Tribun Bali/I Made Ardhiangga
Distribusi air bersih yang dilakukan BPBD Jembrana terhadap warga Banjar Kombading, Desa Pengambengan, Jembrana, Bali, Senin (9/9/2019). 27 KK di Awen Jembrana Kekurangan Air Bersih 

27 KK di Awen Jembrana Kekurangan Air Bersih

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Sejak dua hingga tiga bulan belakangan kekeringan melanda sejumlah daerah di Jembrana.

Sekitar 27 KK di Awen Lelateng, Jembrana, Bali, informasi terbaru, terkena dampak minimnya hujan yang turun belakangan ini.

Sebelumnya, empat desa di dua kecamatan terlanda kekeringan, dan mesti disuplai air bersih oleh BPBD Jembrana.

Dikatakan Kepala Pelaksana BPBD Jembrana Ketut Eko Susila Artha Permana, pihaknya baru menerima informasi kekeringan melanda Awen Lelateng.

Informasinya ada sekitar 27 KK yang kekurangan air bersih, namun belum mendapat distribusi air karena laporan baru diterima Selasa (10/9/2019) sore.

Sementara yang sudah mendapat distribusi air adalah 25 KK ke Berangbang.

Pihaknya menjamin akan segera mendistribusikan air untuk warga di Awen Lelateng.

"Kalau Awen belum, karena informasi yang memang baru kami dapat. Sebelumnya di Kombading kami salurkan 2 tangki air untuk 200 KK," ucapnya.

Distribusi air bersih itu, sambungnya, dilakukan berdasarkan laporan dari pihak desa/kelurahan, dengan mengandalkan satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, yang diperkirakan bisa untuk 20 hingga 30 KK.

"Kami terus pantau dan sigap untuk pendistribusian air. Anggota juga sudah siap melaksanakan tugasnya," bebernya.

Eko mengaku, daerah yang mengalami kekeringan di antaranya Pancardawa Pendem, Berangbang, Yehembang, Kombading Pengambengan, Berangbang dan Awen Lelateng.

Air bersih ini diambil dari hydran di Banjar Tengah Dekat Puskesmas Desa Kaliakah Kecamatan Negara.

"Untuk di wilayah kota sekarang masih aman, namun debit air memang kecil. Jadi kami tetap siaga jika sewaktu-waktu memang dibutuhkan. Kami juga imbau, segera melapor ke pihak desa supaya bisa segera kami tangani," tegasnya.

Anggota DPRD Jembrana Fraksi PDI Perjuangan, IB Susrama mengaku persoalan debit air yang berkurang, harus diatasi dengan pelestarian hutan. Sehingga air tetap ada di musim kemarau.

Demikian juga agar dibangun bendungan atau embung di hulu tiap kecamatan dan desa, untuk bisa menampung air ketika hujan dan bisa disalurkan ketika kemarau.

Sehingga tidak ada lagi istilah krisis air dan kekeringan setiap kemarau.

"Jembrana harus berhitung air baku. Sejatinya sumber air baku sudah ada. Namun perlu dibarengi infrastruktur bendung-bendung kecil," tegasnya.

Menurut dia, sumber di hulu airnya sudah bersih, bahkan bisa disuling. Namun belum dimanfaatkan maksimal.

Karena itu, perlu minta bantuan ke pusat untuk daya tampung air baku.

"Jika tiap kecamatan ada, tentu tidak akan kelabakan untuk air. Apalagi jika satu bulan BPBD mobilisasi distribusi air, tentu kewalahan juga," katanya.

Sejatinya, ia menambahkan, persoalan ini sudah disikapi PDAM dan PU Kabupaten, tentang bagaimana menambah daya tampung sumber air baku.

PDAM akan dibantu satker menambah air baku di wilayah Jembrana 1 dan Negara 1.

Kabupaten bisa koordinasi dengan provinsi dan tahun ini di Kecamatan Mendoyo akan dibangun sumur bor untuk menanggulangi air baku.

(*)

Foto: pakai yang kemarin ya.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved