Bagaimana Cara Memproteksi Database? Begini Menurut Insinyur Software Asal Jepang

Insinyur Software di perusahaan NTT Jepang, Masahiko Sawada berpandangan bahwa salah satu metode yang kuat untuk memproteksi data adalah

Bagaimana Cara Memproteksi Database? Begini Menurut Insinyur Software Asal Jepang
Penyelenggara PGConf.Asia 2019.
Konferensi tingkat dunia PGConf.Asia 2019 tentang seluruh aspek software database Open Source PostgreSQL digelar tanggal 8-11 September 2019 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR – Untuk kali pertama Indonesia, khususnya Bali menjadi tuan rumah penyelenggaraan PostgreSQL Conference (PGConf.Asia 2019).

Konferensi tingkat dunia tentang seluruh aspek software database Open Source PostgreSQL ini pun telah sukses digelar tanggal 8-11 September 2019 kemarin.

Sekitar 27 pembicara internasional yang terbagi ke dalam 30 sesi memaparkan dampak PostgreSQL di dunia bisnis pada PGConf Asia 2019 kemarin.

Pembahasan yang mencuri perhatian seluruh peserta konferensi, yakni keamanan data di lingkungan perusahaan.

Unik, Lomba Masak Dalam Bambu Meriahkan Art Food Festival APJI

Subak Pengembungan Siapkan Air Beji, 2 Hektare Lahan Dijadikan Contoh Pertanian Organik

Insinyur Software di perusahaan NTT Jepang, Masahiko Sawada berpandangan bahwa salah satu metode yang kuat untuk memproteksi data adalah melalui enkripsi data, untuk melindungi informasi rahasia pengguna seperti nomor kartu kredit maupun informasi pribadi lainnya.

Masahiko memaparkan, manajemen kunci enkripsi menggunakan sistem manajamen kunci enkripsi yang menjadi fitur penting lainnya dari hanya sekadar enkripsi data.

“Saya telah melakukan riset untuk membuat dan memperkuat keamanan PostgreSQL dengan mengimplementasikan fitur Transparent Data Encryption (TDE) di dalam PostgreSQL,” imbuh Masahiko melalui keterangan tertulis yang diterima tribunbali.com, Sabtu (14/9/2019).

Hal yang melatarbelakangi Masahiko dalam mengembangkan ini karena di Jepang banyak kasus konversi perubahan dari database Oracle ke PostgreSQL.

Paling Banyak di Abiansemal, Kafe Remang yang Ditutup Satpol PP Terus Dimonitor

Investor Korea Lirik Jeruk Kintamani, Bulan Depan ke Bangli Paparkan Rencana Bisnis

Di mana database Oracle sudah memiliki fitur TDE dan PostgreSQL belum memilikinya sehingga menurutnya perlu melakukan pengembangan fitur yang sama di sana untuk di PostgreSQL.

“Jika kita migrasikan itu, maka kita memerlukan hal yang sama (TDE) untuk di PostgreSQL. Dan fitur itu mahal sekali. Di perusahaan NTT Jepang banyak klien yang telah menggunakan ini, di antaranya klien dari perusahaan-perusahaan berbasis finansial,” ungkapnya.

Fitur TDE pada PostgreSQL merupakan jawaban dari potensial keamanan data perusahaan mulai dari akses yang tidak diinginkan dan database memiliki data file ini yang dilindungi untuk tidak dapat mengakses langsung ke file-nya.

“Kita punya keamanan kuat tapi hardisc-nya diambil kan hilang semua. Kalau fitur TDE itu diambil hardisc-nya tidak akan menjadi solusi karena file-nya encrypt semua,” jelas Masahiko.(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved