Investor Korea Lirik Jeruk Kintamani, Bulan Depan ke Bangli Paparkan Rencana Bisnis

Bangli tak hanya kedatangan investor dalam bidang pariwisata. Bidang pertanian juga dilirik, utamanya potensi jeruk.

Investor Korea Lirik Jeruk Kintamani, Bulan Depan ke Bangli Paparkan Rencana Bisnis
Tribun Bali/Fredey Mercury
Petani jeruk di wilayah Desa Sekardadi, Bangli, saat menjual hasil panennya. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Bangli tak hanya kedatangan investor dalam bidang pariwisata. Bidang pertanian juga dilirik, utamanya potensi jeruk.

Kepala Bidang Ekonomi Setda Bangli, Luh Ketut Wardani mengungkapkan, informasi tersebut mengemuka saat pihaknya mendapat kunjungan dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali belum lama ini.

Investor tersebut, lanjutnya, berasal dari Korea dan memang memiliki pabrik untuk pembuatan jus jeruk. Meski demikian, ia mengaku belum pernah bertemu langsung dengan investor yang bersangkutan.

“Sepintas memang demikian. Kami belum bertemu dengan investornya. Sebab itu HKTI Bali juga bersurat pada Bupati Bangli untuk memberikan waktu, mengundang investor dari Korea itu untuk memaparkan rencananya seperti apa,” ungkapnya, Jumat (13/9/2019).

Wardani mengatakan, rencananya Minggu awal Oktober ini pihak investor akan ke Bangli untuk melakukan pemaparan.

Pada pemaparan nantinya pihak investor akan mempresentasikan maksud dan tujuannya lebih detail.

Di samping juga apa yang diperlukan terkait izin, pengelolaan limbah, hingga hubungannya kepada petani lokal Bangli.

Sebab itu dalam pertemuan awal bulan Oktober nanti, pihaknya juga akan mengundang kalangan petani Bangli.

Wacana mengenai investor yang melirik potensi pertanian jeruk di Bangli, sejatinya sudah beberapa kali mengemuka. Namun demikian, tidak ada kelanjutan terkait kerja sama ini.

“Kalau mengenai kondisi di bawah secara detailnya kan Dinas Pertanian dan para petani. Di lain sisi kami perlu mengundang petani untuk mengetahui secara langsung seperti apa maunya para petani. Apakah lebih memilih menjual jeruknya untuk dikirim ke berbagai tempat? ataukah mau menjual pada investor untuk diolah sehingga nilainya lebih meningkat. Kalau sekarang yang kami ketahui karena overload panen,” jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved