Polisi dan PNS Jadi Korban Mafia Tanah, Satreskrim Polres Gianyar Ringkus Dua Pelaku

Anggota Satreskrim Polres Gianyar meringkus tersangka pelaku mafia tanah yang diduga telah merugikan banyak orang

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
MAFIA TANAH -  Kasatreskrim Polres Gianyar, AKP Deni Septiawan merilis kasus mafia tanah dengan tersangka Pande Bambang, Jumat (13/9/2019). Polisi dan PNS Jadi Korban Mafia Tanah, Satreskrim Polres Gianyar Ringkus Dua Pelaku 

Polisi dan PNS Jadi Korban Mafia Tanah, Satreskrim Polres Gianyar Ringkus Dua Pelaku

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Anggota Satreskrim Polres Gianyar meringkus tersangka pelaku mafia tanah, Pande Putu Wirawan (48) alias Pande Bambang, Jumat (13/9/2019).

Pria asal Lingkungan Pande, Kelurahan Beng, Gianyar ini diduga telah merugikan banyak orang.

Aparat kepolisian masih mengejar sejumlah orang yang diajak Pande Bambang untuk menipu para korban.

Data yang dihimpun Tribun Bali di Mapolres Gianyar, polisi baru menangkap dua orang yakni Pande Bambang dan I Made Pasek Purnayasa alias PP (52) asal Gianyar.

Diduga masih terdapat sejumlah orang lagi yang terlibat dalam kasus penipuan tanah.

Korban yang sudah melapor sebanyak empat orang. I Komang Suartika (42), seorang polisi yang alami kerugian Rp 350 juta.

Ida Bagus Putu Udana (61), pensiunan PNS, menderita kerugian Rp 137 juta.

Sang Ayu Ketut Budiasri (31), ibu rumah tangga, kerugian Rp 157 juta dan Nurhayati Susiani (46) seorang PNS, yang mengalami kerugian Rp  190 juta.

Kasatreskrim Polres Gianyar, AKP Deni Septiawan mengungkapkan, penangkapan Pande Bambang berawal dari pengaduan seorang korban, yang merupakan anggota Polri, I Komang Suartika ke Mapolres Gianyar  4 Juli 2019.

Suartika telah membayar Rp 350 juta, namun sejak tahun 2017 sertifikat tanah tak kunjung diterimanya.

Ketika ditelusuri ternyata tanah itu atas nama orang lain. 

Berdasarkan laporan ini, polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan.

Unit Lidik II Satreskrim Polres Gianyar menemukan bukti kuat Pande Bambang dan anteknya melakukan penipuan jual beli tanah.

“Saat ini kami baru menangkap dua orang. Diduga masih ada pelaku lainnya. Peran antek-antek ini adalah merayu, ngelobi dan menerima uang dari korban lalu uang itu diserahkan ke Pande Bambang. Dari hasil penipuan ini, para anteknya hanya mendapatkan fee,” ujarnya.

Deni mengatakan, korban penipuan mencapai puluhan orang.

Namun, kata dia, sebagian besar tidak mau melapor ke polisi karena takut uang tak kembali.

“Kenapa dia kami sebut mafia tanah, karena korbannya tidak hanya satu. Dugaan kami ada puluhan korban, tapi mereka tak berani lapor, takut uangnya tak dikembalikan. Korban yang datang ke sini baru empat orang,” ujarnya.

Deni mengungkapkan, pelaku menjual tanah dalam bentuk kaplingan dengan harga bervariasi mulai dari Rp 150 juta sampai Rp 130 juta per kapling.

“Saya mengimbau agar masyarakat lebih hati-hati melakukan transaksi tanah. Mengecek kepastian ke BPN apakah tanah itu atas nama yang bersangkutan, dicek juga tanah bukan dalam sengketa,” ujarnya.

(*) 

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved