Subak Pengembungan Siapkan Air Beji, 2 Hektare Lahan Dijadikan Contoh Pertanian Organik

Tampungan air tersebut nantinya akan digunakan untuk mengairi sawah yang akan dijadikan lahan pertanian organik.

Subak Pengembungan Siapkan Air Beji, 2 Hektare Lahan Dijadikan Contoh Pertanian Organik
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Salah satu kawasan persawahan yang akan dijadikan pertanian organik di Subak Pengembungan, Desa Tegal Jadi, Kecamatan Marga, Tabanan, Jumat (13/9/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Hamparan sawah di Subak Subak Pengembungan, Desa Tegal Jadi, Kecamatan Marga, Tabanan, tampak subur, Jumat (13/9/2019).

Tumbuhan jagung yang saat ini ditanam juga sudah berbuah dan siap dipanen.

Sembari menunggu dipanen, pengelola subak setempat menyiapkan lahan seluas 2 hektare untuk dijadikan percontohan pertanian organik.

Mereka mulai menyediakan tempat penampungan air yang sumbernya langsung dari beji setempat.

Tampungan air ini nantinya akan digunakan untuk mengairi sawah yang akan dijadikan lahan pertanian organik. Hal itu agar tak terkontaminasi air dari subak setempat yang sudah menggunakan pupuk kimia.

Sedikitnya, ada tujuh orang anggota subak dari 30 orang yang sudah siap untuk mencoba padi organik.

Kemungkinan besar, setelah percontohan ini berhasil akan terus meluas bahkan nantinya bisa semua lahan akan menerapkan sistem organik ini.

"Kami rencananya mulai bulan Oktober mendatang. Luasannya 2 hektare dari luas lahan seluruhnya 47 hektare," kata Pekaseh Subak Pengembungan, Made Muliana didampingi Kelian Banjar Dinas Pengembungan, I Putu Suarsana, Jumat (13/9/2019).

"Jadi nanti semua prosesnya mulai dari persiapan menanam hingga panen dengan cara tradisional. Kemudian untuk pupuk akan menggunakan pupuk cair hasil permentasi buah daun dan gula, sedangkan pupuk padat menggunakan kotoran sapi yang sudah diolah," imbuhnya.

Menurut Muliana, pertanian dengan sistem organik ini hasilnya memang lebih sedikit meskipun memiliki kualitas yang jauh lebih baik.

Namun, jikakonsisten dari satu panen ke panen berikutnya, ia yakin hasilnya bisa bertambah.

"Dulu memang sudah sempat dicoba oleh beberapa orang petani. Hasilnya memang berkurang tapi kualitasnya sangat bagus. Artinya nasi dari beras organik ini lebih tahan lama atau tak cepat basi," tegas pria yang juga Ketua Pokdarwis desa setempat.

Sementara itu, Penjabat Perbekel Tegal Jadi, I Made Oka Witarmana menyatakan sistem pertanian organik ini nantinya akan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat Desa Tegal Jadi.

Ia berharap pertanian di Desa Tegal Jadi bisa berkembang lebih baik.

"Selain rencana pertanian organik, kami juga didukung tiga Banjar yang memiliki daya tarik masing-masing. Baik itu dari pertanian maupun pariwisata yang nantinya akan kami sinergikan sehingga desa bisa berkembang," harapnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved