Kisah Habibie di Penghujung Kekuasaan Soeharto, Tak Pernah Bisa Lagi Bertemu Sang Presiden  

Setelah rapat bubar, Habibie masuk ruang kerja dan memantau perkembangan gerakan masyarakat, khususnya di Jakarta, dan reaksi luar negeri

Editor: Ady Sucipto
TRIBUNNEWS/LAILY RACHEV-BIRO PERS
HABIBIE -  Presiden ke-3 RI  BJ Habibie bersama Presiden Jokowi seusai pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (13/10/2015). Habibie dan Jokowi  berdiskusi tentang sejumlah permasalahan bangsa.   

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA -- Setelah rapat bubar, Habibie masuk ruang kerja dan  memantau perkembangan  gerakan  masyarakat, khususnya  di  Jakarta,  dan  reaksi  luar  negeri terhadap  situasi  di  Indonesia  yang  terus  memanas.

Panglima ABRI Jenderal Wiranto mohon waktu untuk bertemu.  Namun, Habibie saat itu belum  bersedia  menerima  siapapun.

BJ HABIBIE gagal melaporkan hasil sidang  ad hoc terbatas Kabinet Pembangunan  VII kepada Presiden Soeharto pada 20 Mei 1998 malam, melalui sambungan telepon.

"Sangat saya sayangkan bahwa Pak Harto ketika itu  tidak  berkenan  berbicara  dengan  saya," kata Habibie dalam buku Detik-detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, terbitan THC Mandiri.

Soeharto hanya menugaskan  Menteri  Sekretaris  Negara  Saadilah  Mursyid untuk menyampaikan keputusan, esok harinya, pukul 10.00,  ia akan mundur sebagai presiden.

Sesuai UUD 1945, Soeharto berniat menyerahkan kekuasaan dan tanggung jawab  kepada  Habibie sebagai Wakil  Presiden  RI,  di  Istana  Merdeka.

 "Saya  sangat  terkejut  dan  meminta  agar  segera  dapat berbicara dengan Pak Harto.  Permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan. Ajudan  Presiden  menyatakan  akan diusahakan  pertemuan  empat  mata  dengan  Pak  Harto  di Cendana  besok  pagi  sebelum  ke  Istana  Merdeka," ujar Habibie.

Setelah  pembicaraan  melalui  telepon  dengan  Saadilah Mursyid selesai, Habibie kembali ke pendopo untuk menjelaskan informasi  itu kepada para menteri yang hadir saat itu.

Semua  terkejut  mendengar  berita  tersebut. 

Setelah rapat bubar, Habibie masuk ruang kerja dan  memantau perkembangan  gerakan  masyarakat, khususnya  di  Jakarta,  dan  reaksi  luar  negeri terhadap  situasi  di  Indonesia  yang  terus  memanas.

Ajudan  yang  bertugas,  Kolonel  (AL)  Djuhana  melaporkan Panglima ABRI Jenderal Wiranto mohon waktu untuk bertemu. 

Habibie saat itu belum  bersedia  menerima  siapapun.

Habibie terus asyik di ruang kerjanya sampai terdengar suara dari ruangan yang gelap, "Pak Habibie,  sudah  hampir  pukul  04.00, Bapak  belum tidur  dan  belum  beristirahat,  sementara  acara  Bapak  sudah mulai pukul 07.00. Mohon Bapak beristirahat sejenak." 

Ruangannya sangat gelap, karena tidak ada lampu yang menyala  kecuali  sinar  monitor  komputer."Siapa  yang  berbicara," tanya Habibie. "Siap,  Kolonel  Hasanuddin,  ADC (ajudan)  Bapak,"  sambil menyinari  wajahnya  dengan  lampu  senter.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved