Puisi dan Esai

Mata Air Ibu Rupa Batuan

Eksibisi ini menghadirkan seni lukis dan topeng karya seniman lintas generasi, termasuk lukisan dari Ida Bagus Made Togog dan Nyoman Ngendon

Mata Air Ibu Rupa Batuan
Tribun Bali/Ni Ketut Sudiani
Pameran bertajuk “Ibu Rupa Batuan” di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar, berlangsung hingga 18 September 2019. Mata Air Ibu Rupa Batuan 

Mata Air Ibu Rupa Batuan

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Batuan telah teruji waktu.

Sekian ribu tahun berlalu, namun mata air sang ‘ibu’ tak pernah surut, senantiasa mengairi kreativitas ‘anak-anaknya’.

Di desa kecil di Gianyar ini, terbukti Nyoman Ngendon tak pernah ‘sendiri’ sebab selalu lahir benih-benih yang hingga kini terus setia berjaga.          

Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), dan I Made Djata (1920-2001), sejumlah nama yang segera mengingatkan kita akan masa subur tumbuhnya kesenian di Desa Batuan.

Di antara sekian desa seni di Gianyar yang ‘hidup’, Batuan yang juga melahirkan seni pahat topeng, ukiran, dan dramatari Gambuh, menempati posisi khusus dengan latar sejarahnya yang panjang.  

Sebuah pameran bertajuk “Ibu Rupa Batuan” di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar, yang berlangsung hingga 18 September 2019, menegaskan kepada publik, bahwa benih yang ditanam para perupa pendahulu itu, ternyata tidak berhenti dan mati begitu saja.

Eksibisi ini menghadirkan seni lukis dan topeng karya seniman lintas generasi, termasuk lukisan dari Ida Bagus Made Togog dan Nyoman Ngendon.

Termuda ialah I Wayan Aris Sarmanta, seniman kelahiran 1995.   

Sebagaimana tajuk pameran, Batuan adalah ibu yang setia bertahan dan berjaga, sedari benih ditanam, kemudian memelihara pohon yang belajar menumbuhkan daun-daunnya, hingga mampu melahirkan buahnya sendiri.

Halaman
1234
Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved