Pembalakan Liar di Hutan Lindung Munduk Buleleng, 14 Orang Diperiksa Polisi

Sebuah truk bernomor polisi L 8430 UH yang dikemudikan oleh Wisman dihentikan oleh polisi saat melintas di Jalan Raya Desa Lokapaksa

Pembalakan Liar di Hutan Lindung Munduk Buleleng, 14 Orang Diperiksa Polisi
KOMPAS.com/ SUPARMAN SULTAN
(ilustrasi) Sisa kayu sitaan dari illegal loging yang belum sempat diangkut oleh Dinas Kehutanan Kolaka. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Sebuah truk bernomor polisi L 8430 UH yang dikemudikan oleh Wisman dihentikan oleh polisi saat melintas di Jalan Raya Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng, Jumat (13/9).

Truk tersebut mengangkut kayu jenis sonokeling tanpa dokumen resmi, yang diduga hasil illegal logging atau pembalakan liar.

Kasubag Humas Polres Buleleng, Iptu Sumarjaya dikonfirmasi Minggu (15/9) mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kayu sonokeling yang diangkut oleh warga asal Malang, Jawa Timur itu diduga hasil illegal logging, yang diambil di sekitar Hutan Lindung Munduk Lopeng, Banjar Dinas Sorga, Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt, Buleleng.

Sebab, berdasarkan hasil penyelidikan, ditemukan sebanyak 15 pohon sonokeling bekas ditebang.

Atas temuan ini, sang sopir berserta barang bukti pun langsung diamankan oleh aparat kepolisian sektor Seririt, untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Di hadapan polisi, Wisman mengaku tidak bekerja sendirian.

Ada 13 rekannya yang juga terlibat dalam kasus penebangan liar ini.

Berangkat dari pengakuan Wisman itu lah, polisi pun langsung memburu 13 pekerja lainnya, untuk dimintai keterangan.

"Kami belum melakukan penetapan tersangka. Saat ini  ada 14 orang yang masih menjalani pemeriksaan. Setelah itu baru lah kami dapat menetapkan tersangka mulai dari yang diduga menebang, yang menyuruh, yang mengangkut, dan lainnya," jelas Iptu Sumarjaya.

Atas adanya kasus illegal logging ini, pelaku dapat diancam dengan Pasal 83 ayat (1) jo Pasal 12 huruf e UU RI No. 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, dengan ancaman hukuman pidana paling lama 5 tahun penjara serta denda paling banyak Rp 2,5 miliar.

"Mohon bersabar ya. Bila sudah penetapan tersangka, kasus ini akan segera kami rilis," singkat Iptu Sumarjaya (*) 

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved