IGN Rai Suryawijaya: Kita Butuh Semua Market Baik Low and High

IGN Rai Suryawijaya, menyayangkan adanya turis asing atau wisatawan mancanegara (wisman) yang melakukan hal memalukan di Bali

IGN Rai Suryawijaya: Kita Butuh Semua Market Baik Low and High
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Wisatawan saat berlibur ke Pantai Klingking di Desa Bungamekar, Nusa Penida, Klungkung, Selasa (2/7/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua PHRI Badung, IGN Rai Suryawijaya, menyayangkan adanya turis asing atau wisatawan mancanegara (wisman) yang melakukan hal memalukan di Bali. Hal ini tak dipungkiri membuat citra pariwisata tercoreng. Namun di sisi lain, Bali membutuhkan wisman dari segala lini baik low budget maupun budget besar untuk mengisi ketersediaan kamar. 

Pria yang akrab disapa Rai ini, menegaskan banyak industri akomodasi di Bali yang perlu makan dan menghidupi karyawannya. "Jadi kita akhirnya harus menerima turis semua segmen. Mulai dari low budget hingga yang punya banyak uang. Sebab hotel bintang sampai hotel kelas melati harus terisi. Tentu tidak bisa hanya menjaring kelas atas saja. Nanti stay di hotel bintang 4-5 saja kan sisanya susah," tegasnya kepada Tribun Bali, Selasa (17/9). 

Ia melihat, terkadang ada kasus wisman yang membawa uang ke Bali. Namun lupa diri, saat berbelanja dan foya-foya di Bali. Ada pula yang akhirnya berujung melakukan tindakan kriminal. "Ada pula yang pura-pura gila, mabuk, lalu bikin rusuh agar dipulangkan ke negaranya oleh kedutaan atau konjen. Hal ini terjadi di semua negara, tidak hanya di Indonesia dan Bali. Tapi ini persentasenya kecil, walau demikian tentu tak bisa didiamkan begitu saja," jelasnya.

Rai menampik, adanya ulah dari wisman ini karena dampak bebas Visa. "Bebas Visa membantu mempermudah kunjungan karena sekarang orang tidak perlu berencana jauh-jauh hari datang ke Bali. Sekarang kan bebas, semua bisa akses dengan gampang. Dari 168 negara bebas Visa ke Bali. Kita memang kehilangan pemasukan Visa ini. Tapi kedatangan wisman jadi lebih banyak. Sehingga meningkatkan devisa di bidang pariwisata. Sesuai yang dicanangkan pemerintah selain setelah migas," sebutnya. 

Ia menekankan, tidak ada negara yang mampu menekan hingga zero crime. Untuk itu, hal seperti ini diantisipasi dengan melaporkan ke konjen agar ditindaklanjuti. "Kami di PHRI punya SOP, begitu booking harus bayar. Stay seminggu harus bayar. Bayar di depan. Jadi mereka kalau kehabisan uang dan lain sebagainya tentu harus deposit lagi," tegasnya. Bayar dimuka ini, juga mengantisipasi agar turis tidak kabur. Masalah lain yang perlu diperhatikan, adalah kriminal dari internal. Semisal ada turis yang mabuk di diskotik dan dompetnya hilang. Sehingga ada yang mengamuk dan sebagainya. 

Pria yang juga Ketua BPPD Badung ini, berharap semua stakeholder bisa ikut membantu mencari solusi kondisi ini. Pasalnya, Bali telah  over supply sehingga mau tidak mau semua turis yang datang diterima. "Bayangkan saja, sekarang ada sekitar 146 ribu hotel room dengan target 6-7 juta kedatangan wisman. Okupansi rate average 65 persen. Artinya masih ada 35 persen kamar yang harus diisi," sebut Rai. Ia pun berharap Bali bisa menerapkan "quality tourism" ke depannya. Namun kuantitas juga tetap dibutuhkan. 

"Kalau sekarang 5 juta turis hanya mengisi kamar hotel berbintang saja. Bagaimana dengan kamar hotel non bintang, homestay, bungalow dan sebagainya," kata Rai. Ia membandingkan dengan Bhutan, yang memang telah menerapkan pariwisata berkualitas sejak lama. "Bhutan itu penduduknya 2,5 juta, turisnya 2,5 juta dengan minimal spending money 10 ribu dolar untuk tinggal seminggu. Nah ini sudah ditata dari dulu dan ditaati," tegasnya. Sementara Bali, kata dia, masih belum ada kerjasama yang baik sehingga over supply. 

"Nah over supply ini akhirnya menyebabkan price war. Sehingga harus segera diatasi dengan menambah kunjungan. Untuk itu bebas Visa sangat membantu," tegasnya. Intinya, lanjut dia,  kuantitas ditambah dan kualitas harus terus ditingkatkan dan keduanya berjalan. Agar misi Bali untuk "Road to Quality and Sustainable Tourism" bisa berjalan ke depannya. "Pertanyaannya berani ga sekarang kita mengambil keputusan," ujar Rai. Keputusan membatasi pembangunan akomodasi pariwisata, sehingga tidak terjadi price war dan okupansi meningkat. "Tahun 90an kita berani publish rate karena kekurangan kamar. Sekarang mana bisa, karena over supply akhirnya menerima agar kamar terisi," jelasnya. 

Sehingga untuk menuju kualitas tourism harus ada kesadaran dari semua pihak, terutama pemerintah untuk mengatur pembangunan akomodasi pariwisata. "Saya lihat masih ada izin pembangunan hotel, sedangkan target 7 juta wisman tahun ini tidak akan tercapai. Market China turun 30 persen, domestik turun karena tiket mahal. India turun, dan masih banyak lagi masalah lainnya," tegasnya. Jetstar terbang ke Mandalika, sehingga saingan Bali bertambah dari luar dan dalam negeri. Sementara runway Bandara Internasional Ngurah Rai tidak memadai untuk ke depannya. Hal inilah yang membuat Rai bersama pemerintah sedang menyusun standar kepariwisataan di Bali. Mengingat 70 persen pertumbuhan perekonomian Bali dari sektor pariwisata. 

Intinya ada aturan dulu dan bagaimana agar bisa meningkatkan kualitas. "Di dalam pembangunan destinasi harus berkelas, pengelolaan manajemen dan lainnya harus ada standarisainya. Tentu tidak gampang, mudah-mudahan sebulan lagi selesai. Ini harus diatur," tegas Rai. Termasuk penambahan airport baru di Bali Utara harus dipercepat. Idealnya, kata dia, di Bali kalau dihitung jumlah kamar minimal harus ada 9-10 juta wisman dengan 146 ribu room night dan length of stay 5,5 hari baru tingkat hunian bagus. "Dengan catatan kalau jumlah kamar tidak ditambah. Pilar lainnya marketing atau pemasaran. Karena negara lain juga banyak yang membangun pariwisata," imbuhnya.

Saat ini, tingkat hunian bulan Agustus mencapai 70 persen, namun mulai Januari hingga Juni okupansi hanya 61 persen sehingga year to date sampai akhir Desember hanya 65 persen. Baginya, disatu sisi produk ditingkatkan, destinasi ditingkatkan, keamanan dan infrastruktur ditingkatkan, serta meningkatkan promosi. "Jadi ada strategi dan jangan biasa biasa saja. Tahun depan kami akan mengajukan beberapa program untuk mempertahankan  traditional market seperti Eropa. Kemudian menggaet emerging market seperti China, India, Rusia, dan Amerika. Termasuk mengejar market Jepang yang dulu pernah booming. Sehingga harus ada strategi untuk menggarap market dari semua pihak. Tanpa kerjasama, cita-cita kualitas tourism hanya impian belaka. (*)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved