Sidang Kasus Perkelahian Antar Teman, Saling Lapor, Berujung di Meja Pengadilan

Sidang Kasus Perkelahian Antar Teman, Saling Lapor, Berujung di Meja Pengadilan

Sidang Kasus Perkelahian Antar Teman, Saling Lapor, Berujung di Meja Pengadilan
Tribun Bali/Putu Candra
Sidang Kasus Perkelahian Antar Teman, Saling Lapor, Berujung di Meja Pengadilan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Oknum anggota Polri, I Made Agus Darmayana (40) didudukan di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (17/9).

Ia menjadi terdakwa terkait dugaan kasus penganiayaan terhadap temannya sendiri bernama Kadek Widhiantara alias Moce (saksi korban).

Di sidang lainnya, Kadek Widhiantara alias Moce (32) bersama Putu Pariasa alias Peset (35) juga diadili. Keduanya berstatus terdakwa lantaran dilaporkan I Made Agus Darmayana. Ketiganya pun menjalani sidang dakwaan.

Dalam surat dakwaan terhadap terdakwa Agus Darmayana, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Peggy E Bawengan mendakwa dengan dakwaan primair dan subsidair.

Dakwaan primair, bahwa terdakwa Agus Darmayana melakukan penganiayaan yang mengakibatkan luka berat terhadap saksi korban, Kadek Widhiantara alias Moce. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 351 ayat (2) KUHP

"Dakwaan subsidiar, bahwa terdakwa melakukan penganiayaan yang mengakibatkan luka atau merusak kesehatan orang lain, terhadap saksi korban, Kadek Widhiantara alias Moce. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 351 ayat (1) KUHP," paparnya di hadapan majelis hakim pimpinan I Wayan Kawisada.

Dibeberkan Jaksa Peggy dalam surat dakwaan untuk terdakwa Agus Darmayana, bahwa kejadian penganiayaan itu terjadi pada saat saksi korban Widhiantara ikut merayakan hari kelahiran terdakwa pada 16 Juni 2019 sekitar pukul 01.00 Wita bertempat di Queen Bilyard, Jalan Andakasa No.5, Padang Sambian, Denpasar Barat.

Mulanya, saksi korban mendatangi tempat tersebut sesuai undangan dari terdakwa. Setibanya di lokasi, terdakwa kemudian mengajak korban bersama teman-teman lainnya untuk minum. Berselang beberapa lama kemudian, terdakwa berkata menggunakan bahasa Bali tentang sikap karyawannya yang tidak mau mendengar kata-katanya.

"Terdakwa berkata: rage paling seng demene ngelah karyawan sing nuutang munyi rage, padahal ye dini ngalih amah sik tongos rage, masak munyi rage sing dingehe. (saya paling tidak suka dengan karyawan yang tidak mendengar kata-kata saya, padahal dia mencari makan di tempat saya, masa kata-kata saya tidak dengerin). Kemudian saksi korban bertanya kepada terdakwa Nyen to Ru (siapa itu Ru), yang dijawab terdakwa, Jensen," terang Jaksa Peggy meniru percakapan antara korban dan terdakwa.

Kemudian saksi korban menawarkan kepada terdakwa apakah perlu untuk memanggil Jensen ke tempat tersebut. Namun bukannya menolak atau mengiyakan tawaran korban, terdakwa justru menantang korban untuk berkelahi.

"Terdakwa: mai awake san duel ajak rage (sini kamu aja yang berkelahi dengan saya), dijawab korban: peh Ru mecande, mabuk ne (peh Ru bercanda, mabuk ini)," urai Jaksa Peggy.

Jawaban saksi korban itu membuat terdakwa naik pitam. Lalu terdakwa berdiri dan langsung melempar botol bir ke arah saksi korban namun tak tepat sasaran. Terdakwa kembali mengambil botol bir yang dipecah di atas meja dan langsung menusuk ke arah perut saksi korban. Tusukan pecahan botol itu ditangkis oleh korban dengan tangan kanannya yang mengakibatkan telapak tangan robek sampai urat jari telunjuk dan tengah putus.

Dalam keadaaan bersimbah darah, saksi korban berusaha membela diri dengan memegang leher terdakwa. Saat itu terdakwa juga memengang leher saksi korban. Sehingga keduanya saling pegang. "Kemudian saksi korban memukul dengan tangan kirinya sebanyak 4 sampai 5 kali ke bagian muka terdakwa," ungkap Jaksa Peggy.

Selanjutnya mereka dipisahkan oleh orang-orang yang ada di sekitar kejadian. Kondisi saksi korban mengeluarkan darah sehingga dibawa ke rumah sakit Wangaya untuk berobat dan melaporkan kejadian itu pada pihak berwajib. "Berdasarkan visum et repertum pada saksi korban ditemukan luka terbuka yang disebabkan benda tacam yang telah menimbulkan penyakit atau halangan untuk melakukan pekerjaan jabatan atau pencaharian untuk sementara waktu," papar Jaksa Peggy.

Di sidang lainnya, Kadek Widhiantara alias Moce (32) bersama Putu Pariasa alias Peset (35) yang menjadi terdakwa juga dikenakan dakwaan primair dan subsidair oleh Jaksa Mia Fida. Dakwaan primair, kedua terdakwa tersebut dijerat Pasal 170 ayat (2) KUHP dan dakwaan subsidair Pasal 170 ayat (1) KUHP. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved