Cegah Eksploitasi dan Batasannya Jelas, GIPI Bali Sepakat dengan SKB Perlindungan Tari Sakral

Jika tari sakral ini mengalami kepunahan maka masyarakat Hindu di Bali akan kehilangan nilai keseniannya sebagai pengukuhan sarana upacara keagamaan

Cegah Eksploitasi dan Batasannya Jelas, GIPI Bali Sepakat dengan SKB Perlindungan Tari Sakral
Dok.GIPI Bali
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Beberapa tokoh lintas lembaga telah menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali.

Selanjutnya, SKB ini penting untuk dihormati semua pihak, salah satunya pelaku pariwisata, demi kelestarian budaya Bali.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana menyatakan dukungannya dan sangat setuju jIka SKB tersebut diberlakukan supaya jelas batasannya, mana tarian yang bisa ditampilkan di ruang provan dan mana yang menjadi tarian sakral.

“Kalau tidak ada batasannya semua orang nanti, misalnya GM-nya orang asing, orang luar Bali melihat kenapa gak kita tampilkan baris yang dari Bangli itu di hotel kita kan bagus. Padahal tarian itu sakral dan tidak bisa ditampilkan sembarangan. Nah itu harus ada batasannya sekarang,” kata Gus Partha saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler, Rabu (18/9/2019).

Giri Prasta Serahkan Hibah Rp 12,5 M, Total Rp 30,5 M dari Badung untuk Kabupaten Gianyar

Sejam Terombang-ambing Dihantam Gelombang, Wisatawan Malaysia Meninggal di Diamond Beach

Pihaknya merasa khawatir jika nanti tarian apapun itu demi uang kemudian dieksploitasi, padahal jelas tari sakral tidak boleh sembarangan dipertunjukkan di hotel.

Terkait penurunan antusiasme wisatawan yang datang ke Bali akibat pelarangan tersebut, Gus Partha menyampaikan tidak akan begitu berdampak dan kecil pengaruhnya.

Karena masih banyak jenis tarian yang bisa ditampilkan yang tak kalah menariknya dengan tari-tarian sakral.

Maka dari itu, ia berharap kepada para seniman agar lebih kreatif mengembangkan tari-tarian lainnya agar di sisi lain tidak melanggar aturan SKB ini.

“Wisatawan tidak akan tau kok jenis-jenis tarian apa itu. Bikin aja yang sejenis itu, misalnya dengan mengkreasikan tari barong atau Sang Hyang namun tidak sampai masuk pada materi kesakralannya,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) Bali Prof Dr I Made Bandem menjelaskan pemahaman konteks sakral ketika dilakukan pembahasan-pembahasan dalam FGD (Diskusi Kelompok Terfokus) adalah pertama, tari sakral itu dilihat dari tempat pementasannya. 

Lahan Kosong Milik PLN Terbakar, Diduga Ditinggal Pergi setelah Membakar Sampah

Mengenal Kopi Cleng Yang Membuat Belasan Pria Sumedang Hingga Tumbang sebelum Terbukti Jantan

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved