Breaking News:

66 RS di Bali Hasilkan Limbah 3,3 Ton Sehari, Seluruhnya Diangkut dan Diolah ke Jawa

Di beberapa RS memang sudah memiliki TPS, namun dari pantauannya tidak berjalan optimal.

Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Teja 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Teja menyampaikan setiap rumah sakit (RS) wajib membuat Tempat Penampungan Sementara (TPS) limbah medis yang tergolong Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebelum diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau tempat pengolahan limbah medis.

Pembuatan TPS limbah medis harus sesuai aturan, yakni bentuknya seperti apa, cara pembuangan limbahnya bagaimana, tingginya berapa, dan apa saja yang boleh dibuang di sana.

Adapun jumlah  rumah sakit yang ada di Bali adalah 68 unit. Dari jumlah tersebut diketahui menghasilkan limbah medis 3,3 ton per hari.

Lebih lanjut Teja menyampaikan dalam TPS itu harus dipisahkan antara limbah medis dengan limbah biasa.

Ia mengakui di beberapa RS memang sudah memiliki TPS, namun dari pantauannya tidak berjalan optimal.

Guna Hidupkan KUD Kembali, Bulog Diharapkan Jalin Kerja Sama dengan KUD dan Koperasi

Polda Bali dan Kepolisian Canada Sepakat Tingkatkan Kerja Sama

Manajemen RS berpikiran bahwa yang penting TPS sudah dibuat, selanjutnya ada pihak ketiga atau transporter yang bertanggung jawab mengambil limbah medis B3 sehingga tidak perlu membuat desain TPS luar biasa.

“(TPS) Hanya sekedar dibuat karena kemudian limbahnya langsung diangkut oleh pihak ketiga. Itu masalahnya,” kata Teja saat ditemui di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Kamis (19/9/2019).

Maka dari itu pengawasannya harus lebih dipertegas. Pihaknya berharap Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota jangan hanya mengeluarkan izin saja tetapi harus aktif melakukan pengawasan karena penanganan limbah medis ini menjadi kewenangan kabupaten/kota, dan mereka pula yang mengeluarkan izinnya.

“Awalnya diurus ijin pembangunannya, setelah selesai harus diurus ijin penyimpanan sementara limbah B3. Dalam aturannya, mereka harus membuat tempat penampungan sementara. Harus dibuat yang bagus, dan dipilah dia mana limbah medis dan mana non medis. Tidak boleh dicampur,” terangnya.

Teja menambahkan seluruh limbah medis yang ada di Bali, diangkut oleh pihak ketiga dan selanjutnya dilakukan pengolahan di Jawa. Sementara di Bali sendiri belum ada tempat pengolahan limbah medis. 

SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Persija Jakarta vs Bali United, Ini Cara Aksesnya

Gempa Kembali Terjadi, Kini Tercatat 6 SR Terasa di Bali 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved