Klungkung Pertimbangankan Tari Rejang Renteng Massal Saat Pembukaan Nusa Penida Festival

Suguhan Tari Rejang Renteng massal saat pembukaan Nusa Penida Festival masih dipertimbangkan Dinas Pariwisata Klungkung

Klungkung Pertimbangankan Tari Rejang Renteng Massal Saat Pembukaan Nusa Penida Festival
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sebanyak 1500 penari saat membawakan tari Rejang massal dalam pembukaan Nusa Penida Festival 2017 di Nusa Lembongan,Bali, Rabu (6/12/2017). Klungkung Pertimbangankan Tari Rejang Renteng Massal Saat Pembukaan Nusa Penida Festival 

Klungkung Pertimbangankan Tari Rejang Renteng Massal Saat Pembukaan Nusa Penida Festival

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Suguhan Tari Rejang Renteng massal saat pembukaan Nusa Penida Festival, 5-8 Oktober 2019 mendatang, masih dipertimbangkan Dinas Pariwisata (Dispar) Klungkung.

Hal ini menyusul adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait larangan pementasan tari sakral di luar kepentingan upacara agama.

Dispar Klungkung pun masih akan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait.

Kepala Dinas Pariwisata Klungkung Nengah Sukasta menjelaskan, sudah jauh-jauh hari pihaknya mengagendakan Tari Rejang Renteng yang akan ditarikan oleh 1.000 warga saat pembukaan Nusa Penida Festival di Banjar Nyuh.

Bahkan warga Nusa Penida sangat antusias, dan sudah mulai latihan tarian yang disakralakan ini.

"Menyikapi adanya keputusan itu, kami akan koordinasi lagi dengan penata tari, dan tokoh warga di Nusa Penida. Terlebih ini menyangkut teknis, belum bisa saya sampaikan seperi apa nanti menyesuaikan pementasan Tari Rejang Renteng itu,” ujar Sukasta, Rabu (18/9/2019).

Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan persiapan terkait helatan rutin tahunan tersebut.

Sembari berkoordinasi masalah penyuguhan Tarian Rejang Renteng massal saat acara pembukaan.

"Nanti jika sudah ada perkembangan, akan saya informasikan," ungkap Sukasta.

Beberapa tokoh lintas lembaga telah menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali.

Selanjutnya, SKB ini penting untuk dihormati semua pihak, salah satunya pelaku pariwisata demi kelestarian budaya Bali.

Dalam SKB ini, Tari Barong Ket, Tari Sang Hyang, dan sejumlah tari sakral lainnya dilarang dipentaskan atau dipertontonkan di hotel-hotel atau stage-stage pertunjukan untuk tujuan komersial.

(mit/wem)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved