Lebih dari 500 Pengguna Rokok Elektrik di Amerika Terjangkit Penyakit Paru-paru Misterius

Sementara jumlah pasien yang meninggal akibat penyakit misterius itu tetap tidak bertambah dari tujuh orang.

Lebih dari 500 Pengguna Rokok Elektrik di Amerika Terjangkit Penyakit Paru-paru Misterius
pixabay.com
Ilustrasi vape 

Lebih dari 500 Pengguna Rokok Elektrik di Amerika Terjangkit Penyakit Paru-paru Misterius

TRIBUN-BALI.COM- Lebih dari 500 orang di Amerika Serikat dilaporkan jatuh sakit karena mengalami penyakit paru-paru misterius yang diduga berkaitan dengan penggunaan rokok elektrik.

Jumlah negara bagian di AS yang melarang rokok elektrik beraroma pun terus bertambah, dengan terakhir Los Angeles yang memberlakukan larangan serupa.

Menurut laporan mingguan Pusat Pengendali dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), jumlah kasus penyakit paru-paru misterius di AS tercatat telah melonjak dari 380 menjadi 530.

Sementara jumlah pasien yang meninggal akibat penyakit misterius itu tetap tidak bertambah dari tujuh orang.

"Lebih dari separuh kasus melibatkan pasien berusia di bawah 25 tahun, dengan tiga perempat adalah laki-laki. Sebanyak 16 persen dari mereka yang sakit bahkan berusia di bawah 18 tahun," ujar wakil direktur utama CDC, Anne Schuchat, Kamis (19/9/2019).

Rokok elektrik telah disebut-sebut menjadi alternatif yang lebih aman untuk menggantikan rokok tembakau.

Namun para pengkritik mengatakan risiko penggunaan rokok elektrik alias vape ini belum sepenuhnya bisa dipahami.

Curiga Istri Selingkuh, Pria asal Denpasar Tebas Dokter di Puskesmas Abiansemal, Istri Pelaku Teriak

Kesaksian Sopir & Kronologi Kecelakaan Maut Ambulans Pengantar Jenazah vs Truk di Tegal, 5 Tewas

Kritikus juga mengkritik penjualan cairan vape beraroma yang dianggap dapat menarik anak-anak dan meningkatkan risiko membuat mereka kecanduan nikotin.

Laboratorium Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) sedang melakukan pengujian terhadap lebih dari 150 sampel produk rokok elektrik yang dicurigai.

Halaman
12
Editor: DionDBPutra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved