Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Jiwa Masih Minim

Dukungan yang sangat positif sekaligus menjadi bentuk desakan agar UU Keswa dapat ditindaklanjuti pemerintah

Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Jiwa Masih Minim
Istimewa
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar mengamankan seorang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), Ketut Gede Aryawan di Jalan Hasanudin Gang II Nomor 3, Denpasar, Senin (20/8/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Sejak disahkannya UU Kesehatan Jiwa No. 18 Tahun 2014 Pasal 28 yang mengatur tentang peran serta masyarakat, telah terjadi peningkatan partispasi dalam pembangunan kesehatan jiwa di Indonesia.

Hal ini merupakan dukungan yang sangat positif sekaligus menjadi bentuk desakan agar UU Keswa dapat ditindaklanjuti pemerintah dalam berbagai peraturan turunan.

Dr dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ,  Profesional Psikiater sebagai Ketua Dewan Pakar Bakeswa Indonesia dan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta mengatakan, upaya Kesehatan Jiwa yang diatur dalam UU Keswa mencakup 4 hal yaitu, upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

"Keempat upaya tersebut masih perlu ditingkatkan secara signifikan yang di sisi lain sebenarnya bisa dioptimalkan dengan peranan teknologi seperti yang tercantum pada Pasal 65 UU Keswa," kata Nova saat kegiatan  #1st Jakarta Mental Health Convention di General Electric Indonesia, South Quarter Tower B – TB Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (21/9/2019).

Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh pemerintah dan masyarakat. 

Dalam kesempatan yang sama, Gatot Santosa, SST App. Sc (MRI), Magnetic Resonance Imaging Leader, GE Healthcare Indonesia menjelaskan bagaimana Neuro MR Focused Ultrasound milik GE Healthcare bisa menjadi bagian dalam wujud peranan teknologi dalam Upaya Kesehatan Jiwa.

“Uji klinis hasil Neuro MR Focused Ultrasound dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) memperlihatkan bahwa pasien dengan depresi atau gangguan obsesif kompulsif, jika menjalani perawatan, dapat menjalani hidup yang lebih baik.” Ujarnya.

Teknologi dengan Neuro MR Focused Ultrasound ini mengkombinasikan gelombang ultrasonik fokus intensitas tinggi dipandu oleh MRI yang secara aman dan akurat dapat mengaburkan jaringan target secara non-invasif.

“Dengan Neuro MR Focused Ultrasound, dapat diasilkan visualisasi resolusi tinggi, perencanaan perawatan pasien, dan pemantauan prosedur secara terus menerus,” Ujar Gatot menambahkan.

Dipl. Ing Prisia Nasution, S.Kom.,  Pendiri Kopi Panas Foundation mengatakan dalam upaya kesehatan jiwa, lembaga tersebut sangat menyoroti upaya rehabilitatif yang sampai saat ini belum ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Sosial.

Halaman
12
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved