Virus Mosaik Serang 20 Hektare Tanaman Tembakau di Desa Petemon Buleleng

Sekitar 20 hektare tanaman tembakau yang ada di wilayah Desa Petemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, terserang virus mosaik

Virus Mosaik Serang 20 Hektare Tanaman Tembakau di Desa Petemon Buleleng
pixabay.com
Ilustrasi tanaman tembakau. Virus Mosaik Serang 20 Hektare Tanaman Tembakau di Desa Petemon Buleleng 

Virus Mosaik Serang 20 Hektare Tanaman Tembakau di Desa Petemon Buleleng

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Sekitar 20 hektare tanaman tembakau yang ada di wilayah Desa Petemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, terserang virus mosaik.

Akibatnya, para petani pun diperkirakan mengalami kerugian mencapai Rp 70 juta.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta, menjelaskan, virus mosaik dapat menyerang tanaman tembakau dengan sangat cepat, bisa melalui pengairan atau angin.

Ciri-ciri tanaman yang terserang virus ini yakni daunnya keriput, serta tumbuh kerdil.

Apabila sudah terserang, maka petani pun diimbau segera mencabut tanaman tersebut, agar tidak menular ke tanaman yang lain, sehingga potensi kerugian dapat diminimalisir. 

"Kalau tidak segera ditangani bisa habis satu lahan,” katanya, Minggu (22/9/2019).

Dikatakan Sumiarta, luas total tanaman tembakau di wilayah Buleleng mencapai 343.5 hektare.

Sementara menurut data Dinas Pertanian Buleleng, serangan virus mosaik sejauh ini baru berada di wilayah Desa Petemon.

Dimana lima hektare di antaranya masuk dalam kategori serangan berat, dan 15 hektare lainnya masuk dalam kategori sedang.

"15 hektare itu masih bisa diselamatkan. Sementara lima hektare lainnya gagal panen," jelasnya.

Dengan kondisi ini Dinas Pertanian, sebut Sumiarta, terus menggenjot upaya pencegahan dengan menyarakan penyuluh lapangan serta petani untuk mengaplikasikan fungisida dan kapur sebagai pencegahan penularan ke pohon lainnya.

Pun petani juga diharap lebih jeli dan intens mengontrol tanamannya, sehingga bila ada satu tanaman yang terserang, tidak sampai menyebar ke tanamam yang lain.

"Analisa kerugian per hektare kurang lebih Rp 15 juta. Sementara yang rusak berat kan ada 5 hektare, jadi kerugian kurang lebih Rp 70 jutaan," terangnya.

(*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved