Arak ade dan Petulangan Hingga ke Laut, Tradisi Unik Ngaben di Pesisir Nusa Penida

Arak ade dan Petulangan Hingga ke Laut, Tradisi Unik Ngaben di Pesisir Nusa Penida

Arak ade dan Petulangan Hingga ke Laut, Tradisi Unik Ngaben di Pesisir Nusa Penida
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Tradisi ngaben Desa Batumulapan, Nusa Penida, Kamis (26/9). 

TRIBUN-BALI.COM- Suara sorak sorai terdengar riuh di pesisir Desa Batumulapan, Nusa Penida, Kamis (26/9).

Diiringi hentakan tabuh baleganjur, masyarakat mengarak bade dan petulangan hingga ke laut.

Setiap lima tahun sekali Warga Desa Batumulapan, Pulau Nusa Penida menggelar tradisi ngaben massal.

Dimana upacara biasanya digelar di Bulan September atau Oktober tergantung dewasa atau hari baik yang didapatkan.

Namun tidak seperti pengabenan pada umumnya di Bali, pengabenan di Desa Batumulapan iring-iringan upacara dilaksanakan juga di laut.

“Kami menggelar lima tahun sekali, dan tahun ini giliran dua merajan ini, walaupun lima tahun sekali namun nyatanya di Desa ini digelar setiap satu tahun sekali, karena saban tahun beda merajan atau giliran melaksanakan upacara,” terang Jero Bendesa Adat Batu Mulapan, Wayan Suweca
.
Tahun ini puncak upacara pengabenan digelar, Kamis (26/9) yang diikuti oleh dua Trah yakni Arya Kenceng Tegeh Kori dan Arya Tanwikan.

Dengan sawa atau yang diabenkan sebanya 37 sawa, dari Arya Tanwikan sebanyak 8 Sawa dan Tegeh Kori sebanyak 29 Sawa.

Desa setempat pun, masih menjalankan warisan leluhur.

Saat pengebenan berlangsung, bade dan petulangan yang diarak warga dibawa ke laut.

Warga akan berbasah-basahan di pesisir, dan tradisi ini biasa disebut "niwakang".

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved