Simpang Ring Banjar

Produksi Candle Handycraft Serap SDM Lokal, Produk Diekspor ke Jepang hingga Eropa

Candle handycraft milik I Made Subudi sudah merambah dunia internasional, diekspor hingga jepang dan eropa

Produksi Candle Handycraft Serap SDM Lokal, Produk Diekspor ke Jepang hingga Eropa
Tribun Bali/I Made Ardhiangga
Produksi Candle Handycraft Serap SDM Lokal, Produk Diekspor ke Jepang hingga Eropa 

"Jujur usaha ini bisa berjalan meski tahap demi tahap. Tidak begitu terus besar. Banyak tantangan ya," ujarnya.

Hingga saat ini, UD Laksana sudah mengerjakan sekitar 4.000 item baik motif bunga dan binatang.

Untuk harga, mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 2 juta.

Seluruh kerajinan berbahan plat logam dan besi cor.

Beberapa juga kombinasi dengan akrelic.

Saat ini, 60 persen produknya diekspor ke Eropa.

Dominan ke Inggris, Jerman, Italia dan Austria.

Sementara 40 persen ke Jepang, berbentuk kerajinan buschet (keranjang), Australia dan Amerika.

"Itu buyer yang saya ketahui. Mereka rata-rata membeli untuk dijual lagi," imbuhnya. (ang)

Modal Tipis, Produksi Banyak Manual

Permodalan selalu menjadi kendala bagi pengusaha UMKM.

Subudi menyebut, ia tidak memiliki modal begitu besar.

Sehingga, mengambil bahan baku dari Tabanan dan Denpasar saja.

Ia tidak mengambil dari Jawa, karena jumlah yang besar tidak sepadan dengan modal miliknya.

Karena permodalan pula, 70 persen produksi masih manual, baru 30 persen menggunakan mesin.

Produksi manual itu, Subudi menjelaskan, pembentukan dan pemotongan logam dari tangan pekerja langsung.

Desainnya bukan desain grafis karena belum mampu mempekerjakan.

Sehingga, desain masih monoton.

Kendala yang dihadapi saat ini, perekonomian dunia dan dalam negeri yang tidak stabil.

Di luar negeri, ekonomi terpengaruh kondisi alam dan unjuk rasa.

Sedangkan di dalam negeri, naiknya harga bahan baku logam, sedangkan nilai jual tetap.

Belum lagi persaingan pengusaha Indonesia dengan Tiongkok.

Pengusaha Tiongkok bisa menjual lebih rendah, hingga 60 persen dari harga jual pengusaha Indonesia.

"Misal kita jual 5 dolar, mereka 1 dolar. Pada tahun 2005, kami pernah kolabs karena serangan China. Semua buyer lari ke China dan beberapa tahun buyer kolabs karena China itu menjual dengan sistem pemborongan," jelasnya.

Karena pengusaha Tiongkok menggunakan sistem pemborongan, pengusaha Indonesia menggeliat dengan  menerima order per item.

"Tapi hasil produk China lebih bagus. Karena China didukung mesin dan SDM yang baik," ungkapnya.

Subudi berpendapat, dalam dunia usaha memang selalu harus sharing informasi dengan pengusaha lain.

Misalkan menyangkut bagaimana keadaan ekonomi global.

"Apalagi sekarang peak seasons tidak bisa diperkirakan. Kalau dulu di tahun 2010 ke bawah bisa dibaca. Kalau dulu di Bulan November dan Desember pasti banyak pesanan. Karena Natal dan tahun baru. Januari menurun, kemudian April bertahap untuk mengantisipasi November," bebernya.

(*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved