Rutgers WPF Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalis Tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Belasan awak media dari sejumlah wilayah di Indonesia mengikuti pelatihan jurnalis tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi

Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Widyartha Suryawan
Suasana pelatihan jurnalis tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi di Hotel Sahid Raya, Yogyakarta, Sabtu (28/9/2019). Pelatihan tersebut digelar oleh Rutgers WPF Indonesia. Rutgers WPF Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalis Tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi 

Rutgers WPF Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalis Tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

TRIBUN-BALI.COM, YOGYAKARTA - Belasan awak media dari sejumlah wilayah di Indonesia mengikuti pelatihan jurnalis tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi, di Hotel Sahid Raya, Yogyakarta, Sabtu (28/9/2019).

Pelatihan jurnalistik ini digelar oleh Rutgers WPF Indonesia sebagai salah satu rangkaian dari The First International Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health (ICIFPRH).

Pada sesi pertama, para jurnalis mendapat materi mengenai Sexual & Reproductive Health Rights oleh SRHR Program Coordinator – Rutgers WPFIndonesia, Nur Jannah.

Menurut Nur Jannah, persoalan seksual di Indonesia masih dianggap sebagai sebuah tabu sehingga jarang dibicarakan secara tuntas.

Masyarakat cenderung memandang dengan konotasi negatif setiap isu yang berkaitan dengan seksual.

Akibatnya, narasi tentang hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi tidak dipahami dengan baik.

"Saat ini, kami sedang berusaha membuat glosarium sebagai alternatif untuk dapat melihat seksualitas secara positif," terang Nur Jannah.

Pelatihan jurnalistik yang digelar selama dua hari (28-29/9/2019) itu juga memaparkan hasil penelitian termutakhir dari Global Early Adolescent Study (GEAS) dan Youth Voices Research tentang 'Norma Gender dan Perkembangan, Kesehatan, serta Kesejahteraan Remaja di Indonesia'.

Penelitian tersebut menunjukkan, remaja putri mempunyai pengetahuan yang rendah tentang kesehatan seksual dan reproduksi.

Anak putri usia 12-13 tahun merasa tidak nyaman ketika memasuki masa pubertas, terutama mengenai perkembangan tubuhnya.

"Ibarat anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa," kata Anggriyani Wahyu Pinandari dari Pusat Kesehatan Reproduksi UGM.

Selain kedua tema itu, para jurnalis juga mendapat materi tentang sejarah Keluarga Berencana (KB) di Indonesia, dan relevansinya dengan hak kesehatan seksual dan reproduksi; serta bonus demograsi dan peran remaja dalam pembangunan nasional.

(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved