Tingkat Hunian Kamar Hotel di Bali Kini Hanya 65 Persen, Pelaku Pariwisata Dukung Moratorium

Menurut Rai Suryawijaya, meskipun kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali terus bertambah, namun okupansi justru stuck.

Tingkat Hunian Kamar Hotel di Bali Kini Hanya 65 Persen, Pelaku Pariwisata Dukung Moratorium
(oatawa)
Ilustrasi hotel 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pelaku pariwisata mendukung penuh rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali merancang moratorium (penghentian) pembangunan hotel di Pulau Dewata.

Pasalnya, saat ini tingkat hunian kamar atau okupansi hanya 65 persen. 

Dukungan tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung, IGN Rai Suryawijaya, dan Wakil Ketua Umum I Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana, kepada Tribun Bali, Jumat (27/9/2019).

Menurut Rai Suryawijaya, meskipun kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali terus bertambah, namun okupansi justru stuck.

Rai, sapaan akrabnya, mengatakan masih ada porsi 35 persen yang kosong dan harus diisi.

“Masalahnya adalah selama ini kunjungan wisman naik, tetapi pembangunan akomodasi pariwisata tetap dilakukan. Jelas kan akhirnya saingan dan timbul price war,” tegasnya.

Price war atau perang harga sangat dirasakan di Badung. Maklum, dari 146 ribu total kamar yang ada di Bali, hampir 70 persen atau 102 ribu kamar di antaranya berada di wilayah Badung. Sementara kunjungan wisman masih di bawah 7 juta.

“Estimasinya dengan kunjungan 6,2-6,5 juta saja okupansi itu hanya 65 persen, bahkan kalau low season di bawah itu,” ujar Rai.

Alhasil, dengan okupansi sisa 35 persen membuat Bali menerima wisman dari semua kalangan hingga low budget yang kerap bikin masalah.

“Kita perlu semua segmen karena untuk mengisi yang kosong itu,” imbuhnya.

Halaman
123
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved